Entry: Para Pendoa dan Pengharap Saturday, November 10, 2007




seperti hari-hari biasa, doa-doa dilayangkan agar segalanya menjadi lebih baik dan berjalan lancar. tapi hari itu, selain doa dalam hati, beberapa saudara-sahabat-handai taulan saya mengirim doa lirih, pengingat yang mengajak merenung, juga harapan yang sayup-sayup dalam bentuk yang lain. ini beberapa di antara mereka.
tapi begitulah yang terjadi; tak akan pernah bisa membalas apa yang mereka berikan kepada saya. rasanya, selalu, tak akan pernah setimpal.

Daeng Nuntung
CERUTU ITU BERTANDA "J”

Jika hari ini adalah kemarin, mungkin kursi ini telah ku lamming buatmu.
Maafkan jika kuandai masa laksana sedang meneguk
secangkir kopi pahit tanpa manismu lagi.

Demikianlah adanya, mengapa Jendela hatimu seakan lapuk
dimakan cemburu yang merayap rayap?
Oh kesi’na, kenapa gitar tua itu kau mainkan lagi.

Kau sandingkan pula dengan keyboard yang aneh,
yang memainkan waktu seperti hanya hitam putih saja
yang hadir di sekitarmu.

Senandung “putucangkir” yang selalu kau nyanyikan di pondok Nurlina
daya tariknya telah pupus larut dalam iming Maccaroni-mu.

Melupakan cerita kita di sudut Tamalanrea, di suatu senja nan getir
Oh Andik…

Di sudut meja bambu bertuliskan Ininnawa ini, buku-buku cinta Romeo bersaksi
Tahukah engkau, aku pun pun tetap berharap penuh dalam siksaan sejarah kita
Di kertas bersuara ini, ‘ku ingin cintamu lantak di bayang asa pagi
Tak kan kubiarkan mata menjadi sungai kering,
sayu dan sembab untuk kesekian kalinya.

Oh Andik…
Jika kelak engkau bertandang lagi,
Ragaku telah jadi kotak hitam berlogo “J”.
Jiwa dan ragaku di sana, berbaring bersama cerutu Khairil…

(http://wordsturbulence.wordpress.com)
-----------------------------------------
Erwin Saputra

wajahmu kusam pagi ini,
seperti bait lagu dengan denting-denting gitar lagu klasik
yang sering kau mainkan jika aku datang berkunjung
wajahmu
aku masih ingat
mengalunkan senyum jika aku datang
menyodoriku harapan-harapan
namun tidak dengan semangatmu!!
dia keras seperti baja
tidak seperti pohon-pohon yang telah tumbang di depan rumahmu
dijadikan debu-debu oleh para penguasa kota
hari ini..
denting jam yang dibelikan Ibu
mengingatkanku padamu...
----------------------
Lily Yulianti
USIA
:untuk jimpe

usia bertanya padamu:
tidakkah kau sia-siakan aku?
karena kutemani kau selalu
meski tak selalu kau mau tahu

hari ini usia duduk di depanmu
berharap kau menjawabnya

kau mengulang janji,
menyesali yang tak tertunai
berbalik menghiba cemas pada usia:
"bagilah rahasia itu, sampai kapan kau bersamaku?"

usia berkata padamu:
aku mencatat peluh dan tangismu
aku lebih lekat dari bayang-bayangmu
aku mengantungi hitungan hidupmu

usia tak mau membagi rahasia itu,
namun masih berbaik hati menghadiahimu cermin
sebelum kembali menyusup dalam kesadaranmu
mencatat langkah, rencana, bahkan diammu

ly
tokyo 8:45 am/6 November
-----------------------------
M Aan Mansyur
MENGAPA KAU BERULANG TAHUN DI MUSIM HUJAN?
–jimpe

Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?
Benda-benda seluruhnya sedang belajar bersedih:
Kursi dan meja masing-masing seperti seorang kekasih
baru ditinggalkan. Penjual putucangkir dan jendela kayu
di wajahnya cuma ada sepasang mata sayu, mata yang layu.
Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?
Suara-suara seluruhnya yang terdengar hanya perih:
Denting sendok pada cangkir kopi.

Ada yang memilih
mendengar rintih biola daripada getar gitar yang lirih.
Keyboard komputer bicara tentang kertas suara pemilu
jatuh ke kotak dari jari seorang pemilih yang terisak pilu.

Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?
Agar aku bisa kembali muda seperti pohon, katamu,
yang oleh musim hujan daun-daunnya kembali hijau.

Biblioholic, 23:55, 04/11/07
(http://pecandubuku.blogspot.com)
--------------------------------
M Hasymi Ibrahim
DEMI MASA

masa, seperti juga cahaya
telah merambat sampai sumsum
berpendar dalam tatawarna yang baur
membentuk tanya tak habis-habis
:di manakah sesungguhnya ajal terletak?

engkau pernah menyebutnya, di ujung
tetapi orang-orang justru mengatakan, pada awal
lalu engkau dibimbangkan kesangsian
karena ternyata dia dekat urat lehermu.

masa, seperti juga cahaya
telah dengan setia mengiringmu
menapak langkah menuju puncak
menjelma usia yang engkau sandang
kemana-mana
sebelum akhirnya menjadi tiada.

Waspadalah !

Jkt, 6/11/07
---------------------------------
Mustamin Al-Mandary
AKU INGIN MENGENALMU SEKALI LAGI
untuk Jimpe

Aku mengenal namamu tahun lalu,
bukan lewat lagu,
tetapi melalui buku.

Aku mengenal wajahmu tahun ini,
ketika aku menemuimu di depan kedai,
di bangunan megah tempatmu mengisi hari-hari,
menulis kepedulian di depan komputer ditemani kopi.

Kuulang doa sederhanaku hari ini,
Doa ulang tahun untukmu yang sudah kurapalkan kemarin,
Dan aku ingin mengenalmu sekali lagi,
Saat kamu bersama seorang Kekasih,
yang menemanimu menenun hari.

Maaf,
aku tidak bisa menulis puisi,
dengan baik,
seperti yang lain.
Kuberi saja doa
walaupun aku tidak tahu akan diterima.

Mus
Balikpapan, 6 November 2007
--------------------------------
Nurhady Sirimorok
JIMPE UNTUKMU

bungabunga pendar di keliling rumahmu
burung berlompatan di pekaranganmu
gadisgadis berceloteh diberandamu
anakanak bernyanyi diiringan musikmu

bukitbukit tersenyum padamu
awan selalu melindungi jalanmu
pematang setia mengantarmu
debur sungai tak alpa membasuhmu

sungguh masa tua itu bagimu
adalah masa tua yang menghiburmu
aku cuma ingin ada bersamamu
menikmati kisah ayunan langkahmu
-----------------------------------
Ruslee
BERAPA SISA UMURMU PAGI INI, JIMPE?

sedari subuh aku sudah berdiri depan kotakmu temang
coba mencari jendela berkusen semangat yang pernah kau kapuri
dengan renyah tawamu dulu di Puntondo
aih rupanya aku agak sial pagi ini

hanya kudapat dengkuran pagi yang berat
dan remah putu cangkir pada keyboard yang berhiaskan sendutan rokok
dan sebuah puisi tentang cara membunuh lupa
yang mungkin telah diakhiri oleh kantuk
pada pejam matamu yang berbau bantal itu
kulemparkan dua tanya untuk kau jawab di mimpi pagi mu ini.

umur berapa kau pagi ini, jimpe?

adakah seperti pagi yang lain memamah janji memilin waktu
dan mengakrabkannya dengan kertas dan pena

ataukah umur hanya seperti dentum suara balok
pada mesin tenun dikolong rumah seperti yang kujumpai di sempangnge
datar, dan hanya berarti bahwa pagi sudah datang
dan tangan-tangan perempuan ber-cello itu ramai mengisi umur
dengan nyanyi sanjak pattirosompe menunggu para lelaki bersarung pulang

berapa sisa umurmu pagi ini, jimpe?
sudahkah kau hitung berapa bait puisi yang kau bagi untuk teman2 kecilmu
yg sedang mengayuh rindu pada sepetnya bau kertas beraroma tengik
bertuliskan nomor hape penjual ikan di Karuwisi
atau bisa jadi seorang remaja puber yang mencari cinta di Pasar Terong

sudah puaskah kau menyeruput kopi di cangkir setiap siang kala terbangun
dan memandangi selokan yang bersampah, sampah yang didandani bau busuk
seperti yang kupelihara bersama lalat di Pannampu itu.

maafkan aku tak menghadiahkan kecupan pagi, teman
untuk hari dimana kau mungkin sedang berbahagia
dilumuri ucapan dan kecupan (punna upa’) selamat

ini hanya pusaran kata yang mungkin nirmakna bagimu
atau mungkin cuman ocehan yang berlalu seperti angin hilang, selepas nafas
memburu segar atau hujan mencari dedaun untuk dimandikan

atau seperti telaga yang tumpah mencari selokan
atau seperti pesisir yang kehilangan nyiur dan sampan para nelayan
atau seperti bapak yang sedang menunggu putri yang dijanjikan

semua hanya mungkin,
seperti ucapmu dulu.
selamat ulang tahun teman.

(http://daengrusle.com)
--------------------------------

   8 comments

Lisa34oS
February 22, 2010   11:30 AM PST
 
I do really like your good enough article! Could you accomplish the sample essay for example? Because I do really know that an experienced <a href="http://quality-papers.com">essays online</a> service can compose essays of prominent quality.
mc
March 14, 2008   04:57 PM PDT
 
asiknya dpt hadiah puisi2. kewl:)
mw ku juga.
blognya inspiratif. jadi kangen mkz.
salam kenal, y..
cham
February 9, 2008   07:56 PM PST
 
Terharuku baca ini postinganta....

banyaknya orang yang sayangki di. paling enak memang dekat sama orang penggila sastra, dikit2 dikasi puisi.

jadi ngiri.

hiks... hiks... hiks...
isnuansa
November 22, 2007   05:29 PM PST
 
Senangnya, dapat ucapan selamat ulang tahun dalam bentuk puisi. Banyak lagi!
Kalo saya paling-paling dapet ucapan lewat sms, trus minta ditraktir lagi..
Selamat ulang tahun.
jimpe
November 12, 2007   04:33 PM PST
 
hey yati, baik ces. gmana kabarmu? thank you. dikau juga sehat2 ya?!
yati
November 12, 2007   01:45 PM PST
 
ih...banya'na ini iya puisi na dapa' e.....minta tonga kodong :(

slamat pale' na dulu...sehat ji toh?
jimpe
November 12, 2007   12:24 AM PST
 
ih traktiran? gampaaang! btw, terima kasih banyak, tra ..
soeltra
November 11, 2007   01:28 PM PST
 
kk jimpeee...
"SELAMAT BERULANG HARI".
lagi nda bisaka berpuisi, iriku deh..baca postingan ini, banyak skali bela...puisna.bagus-bagusnya lagi.uhuyyy!!! kenapa jd sultra yg riang?hehe...
eniwei, all my best wishes for you bro ;) traktirka lg makan indomie bikinan k' Acunk di rmh bambu dpn Bibli. HAHAHA...

salam..

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments