Entry: lima lima lima lima Tuesday, November 06, 2007




di hari penyoblosan, narsis saya jadi kambuh. saya rasa, ulangtahun saya dirayakan oleh sekitar 5 juta pemilih, yang dibayang-bayangi 5 ratus ribu golput. sebenarnya sehari sebelumnya, saya berencana datang ke tps. kartu pemilih saya, di rumah kakak di btp, ditera lahir tanggal 10 november. padahal sejatinya, saya lahir 5 hari sebelumnya. saya ingin datang ke tps. ingin tahu saja, apa bisa menyoblos dengan data yang tak akurat itu. kira-kira dicocokkan dengan data di ktp tidak? kalau mesti pakai ktp, apa saya dibolehkan masuk dengan data yang tak akurat itu? tapi rencana itu saya putuskan tidak di pagi harinya. ternyata sebuah pekerjaan yang memiliki deadline saya harus selesaikan hari itu juga.

malam sebelum hari penyoblosan, saya bertemu seorang teman, andri yang mengaku punya dua kartu pemilih. parahnya di alamat yang sama. teman satu lagi, berpengalaman serupa. tapi bedanya dia terdaftar di alamat beda: satu di rumah yang didiaminya sejak dua tahun lalu, sementara pula ia tercatat di rumah orangtuanya. pulang dari bertemu dengan dua teman itu, saya naik taksi. si sopir taksi, ismail, mengaku juga dua kartu pemilihnya, di alamat yang sama pula.

beberapa hari sebelumnya, saya pernah ngobrol dengan seorang penambal ban di sekitar ininnawa. dia mengaku urung ikut konvoi kampanye. kata dia, cuma dikasih 10 ribu rupiah untuk bensin. "ah terlalu sedikit. belum makan, belum lagi kalo terjadi apa-apa di jalan," kata dia.

hiruk pikuk kampanye memang terdengar dari jalan. rombongan motor yang menguasai jalan jelas terlihat. panji, kaos, truk penuh penyokong, tumpah di jalan raya. lepas dari mereka, suara ambulans yang memang tiap hari langgar di jalan besar terdengar dari jauh. kalau sudah terdengar, berhati-hatilah! ujung tombak rombongan pengantar jenazah itu segera meminta anda menepi dengan cara yang tidak ramah; bambu dengan bendera putih dikibaskan menghalau orang untuk menepi, seperti gembala mengatur hewan piaraan.

setiap hari, hingar kampanye juga terlacak di harian lokal. saling klaim-baku sindir bukanlah hal yang baru. hal pertama yang saya kira-kira tak lain biaya advetorial kampanye. saya pernah bekerja di sebuah harian di kota kelahiran saya, balikpapan, biaya advetorial sehalaman penuh berkisar 35jutaan untuk sekali tayang (sehari). koran tempat saya bekerja 2002-2004 itu bertiras tertinggi di kaltim. kalau sudah begitu, saya langsung membuat hitungan kasar tentang biaya per hari yang mesti dikeluarkan masing-masing kandidat kalau masing-masin memborong 4 halaman? 35 juta kali 4 halaman dikali 10 hari? hmmmm ... 1,4 miliar!

angka ini, bisa jadi, hitungan yang pantas. karena sebelum pemuatan advetorial, kedua kubu calon orang nomor satu di sulsel itu menandatangani MoU dengan media bersangkutan. dalam pengalaman saya, sekali lagi, penandatanganan seperti itu, di media tempat saya bekerja dulu, dilakukan bila nilai transaksi itu besar.

ya, sejauh ini memang, dua kandidat yang habis-habisan membombardir media dengan advetorial. saya sendiri mikir, kalau begini, cuma media dong yang jadi kaya? terus yang lain gimana?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments