If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Wednesday, September 12, 2007
Tarot yang Mana Anda?

The Hermit

Prudence, Caution, Deliberation.

The Hermit points to all things hidden, such as knowledge and inspiration,hidden enemies. The illumination is from within, and retirement from participation in current events.

The Hermit is a card of introspection, analysis and, well, virginity. You do not desire to socialize; the card indicates, instead, a desire for peace and solitude. You prefer to take the time to think, organize, ruminate, take stock. There may be feelings of frustration and discontent but these feelings eventually lead to enlightenment, illumination, clarity.

The Hermit represents a wise, inspirational person, friend, teacher, therapist. This a person who can shine a light on things that were previously mysterious and confusing.

What Tarot Card are You?
Klik di Sini untuk Cari Tahu.


Posted at 02:25 pm by jimpe
shoutbox  

Tuesday, August 28, 2007
Surat perihal Sebuah Pementasan

Kepada yang Terhormat
Sahabat-sahabat Saya
di Kala Teater

SENANG sekali rasanya bisa melihat lagi pementasan kalian. Itu artinya sebuah usaha sudah sampai dan ditunai. Ya bergembiralah, meski ada saja hal-hal yang berjalan tersendat atau mungkin tidak berkembang sesuai harapan. Saya pikir, perihal yang tak selesai dan terus memerlukan pengasahan adalah, juga, sebuah kewajaran. Kata orang, proses mencapainya itu penting. Kalau pun berhasil, anggap saja sebuah hadiah.
Baiklah. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sebagai salah seorang penonton yang, ya ...dimisalkan saja saya sebagai penonton yang beranjak jadi pemirsa-setia pementasan kalian. Karenanya, rasanya, saya perlu memberi masukan dan tanggapan. Ini boleh dianggap gejala kecerewetan seorang penonton saja. Tapi saya boleh memberi masukan dengan bikin pembandingan ya? Jangan khawatir, saya cuma menimbang-nimbang antara pementasan yang pertama dan yang terakhir kemarin. Boleh ya?!

USAI menonton di Jumat malam, saya begitu puas melihat pertunjukan pertama kalian. Impresi awal saya adalah konsepnya tidak lagi se-frontal dulu. Kalau begitu, memangnya yang pertama frontal? Se-frontal bagaimana kalau memang iya? Dulu itu, kalau mau tahu, yang pertunjukan pertama maksud saya, aduh ... sayang sekali kok diakhiri dengan menyodorkan ke penonton deretan produk. Dulu itu saya rasanya ada samar-samar di kepala saya tentang ide kisah tubuh itu. Saya pun sudah menikmati bagaimana sungai-sungai kecil cerita itu mengalir ke muara yang sama, yaitu jelajah kapitalisme yang merangsek sampai ke wilayah-wilayah paling pribadi manusia; pikiran dan tubuh. Tapi aduh kesannya menggurui banget gitu loh...
Pertunjukan pertama itu masih memberi ruang yang cukup bagi saya melakukan interpretasi yang paling mungkin atas gerakan dan multimedia yang tampil di luar maupun di dalam panggung. Ya tentu saja saya sepaham juga dengan Triyanto Tiwikromo (Sayap Kabut Sultan Ngamid), semua tanda tak bisa diraba dan membuncahkan makna. Tapi beberapa adegan akrab dengan pengalaman saya. Adegan-adegan itu pernah saya alami, bahkan mungkin adalah sebagian dari pe-dalam-an saya.
Instalasi balon-balon itu jauh memiliki daya jelajah yang luar biasa mengantar saya mencari bagaimana gerangan tubuh itu di dunia luar sana. Ternyata tubuh saya dan tubuh mereka tidak lebih dari sekadar balon yang tak berdaya. Sekali sentil, pecahlah ia.
Suasana berbeda saya dapati ketika mencoba masuk dalam karya instalasi di pertunjukan Jumat-Sabtu kemarin. Saya tersendat-sendat. Dugaan saya karena instalasi yang ’terjadi’ (bukan yang ’ada’) begitu berjarak. Karya instalasi mengharuskan orang akan enggan ”mengalami” karena harus berkotor-kotor oleh tinta untuk menera sidik jempol di selarik kain. Gambar slide juga begitu. Dia belum menghadirkan ajakan pendahulu bagi saya sebelum masuk menonton. Jadinya, kalau dibahasakan dengan ringkas, saya agak ”pasrah” masuk ke teater tertutup. Hanya catatan pertunjukan sutradara, bagi saya, rasanya tidak cukup. Saya pun tidak terbiasa membaca pengantar atau sejenisnya. Saya selalu ingat apa yang dicamkan dulu guru saya, Roem Topatimasang, bahwa bila berhadapan sesuatu ada baiknya tidak mengetahui sama sekali. Menjadi bejana yang siap isi sebagai laku yang paling pantas untuk sebuah proses belajar. Ya menonton dan menikmati pertunjukan begini juga sebuah usaha belajar seorang penonton seperti saya. Jadi yang biasa saya lakukan adalah membaca Pengantar bila sudah sampai di rumah. Itu pun sekadar ”mencocok-cocokkan” apa yang saya lihat, dengar, dan serap di pertunjukan tadi.

SAYA sangat menikmati pertunjukan kedua ini. Memang saya ini hanya penonton yang baru. Menonton karya Shinta pun, seingat saya, baru ’sekuel’ Kisah Tubuh ini. Lebih jauh lagi, kalau saja ada Perkumpulan Pecinta Teater Seluruh Indonesia (Petsin), maka saya bisa jadi masuk ke PT Petsin (Perkumpulan Teman-teman Pecinta Teater Seluruh Indonesia). Tapi saya percaya selalu, meski saja dua karya berangkat dari titik ide yang sama, namun penggarapannya jelas memerlukan siasat yang tidak serupa; seperti perbedaan dua karya instalasi pengantar tadi. Jadi tentu saya akan maklum dengan apa yang ’terjadi’ di depan saya, baik karya instalasi maupun pertunjukan teater yang berlangsung di dalam ruang.
Baiklah, saya akan bicarakan tentang yang terjadi di Kisah Tubuh: Yang Terasing dan Semu (KSYTS) sendiri. Yang sempat terpikir oleh saya adalah kemampuan kalian untuk bermain sampai kurang lebih sejam di pentas itu. Saya pikir, menghabiskan energi seperti itu bisa jadi sama dengan kekuatan yang harus saya keluarkan bila bermain bola di waktu-waktu senggang saya. Wah melelahkanlah pokoknya!
Tapi sayang sekali, KSYTS yang minim kata dan menitikberatkan gerak sebagai modus ucapannya, sebaiknya diperlakukan layaknya sebuah karya tari. Kalau perlu, bermain ”setengah-setengah” saja. Maksud saya, separuh teater separuh tari. Gerak belum dimaksimalkan menjadi ’intonasi’. Mungkin ucapan dan seruan bisa diberi penekanan lagi dalam bentuk lompatan. Gerak aktor baru sebatas ’dada ke bawah’. Dalam sependek ingatan saya, waktu KSYTS ditampilkan, sekali saja ada lompatan di dalamnya. Itu pun melompat ke atas kursi tinggi. Eksplorasi gerak aktor lebih banyak bermain di bawah lantai. Kalau saya saran, jangan takut membuat penonton di Makassar protes. Bikin mereka tidak terbiasa sekaligus takjub. Kalian tahu kan, mereka penonton yang cukup konservatif. Tak jauh-jauhlah dengan kaum-kaum terdahulunya. Mereka tidak terbiasa mencoba dan menjelajahi hal baru.

DALAM pengantar sutradara, karya ini dipicu keluh kesah orang-orang terdekat yang merasa terasing karena profesi yang mereka kecimpungi telah menjebak mereka dalam irama yang sama setiap hari. Tak ada waktu menghayati tubuh mereka sendiri. Itu terlihat pada sejumlah gerakan yang ditampilkan.
Tapi usai membaca Pengantar, saya berandai-andai, bila saja Shinta mencoba untuk lebih dalam lagi melihat hal itu di wilayah perilaku masyarakat Bugis, lingkungan tempatnya tumbuh dan berkembang. Entah apa pertimbangannya Tari Pakkarena atau elemen Bugis dan Makassar yang lain tidak lagi dipakai seperti ketika Kisah Tubuh yang disajikan di setahun silam.
Untuk tahun ini, KSYTS benar-benar dibebaskan dari ’godaan’ seperti itu. Padahal yang saya rasa hingga sekarang, standard-standard seperti ini begitu keras menerpa orang-orang di Makassar (Sulawesi Selatan pada umumnya), kalau tak hendak dikatakan sangat esktrem karena budaya Bugis mengagungkan kepangkatan (takhta), kepemilikan (harta), kecendikiaan (ilmu), dan keberanian (ksatria) sebagai bekal seseorang untuk masuk dalam strata sosial dalam masyarakat Bugis. Tapi saya pikir, tak apa juga bila itu memang disengaja untuk melepaskan dan menelikung sejumlah pakem-pakem yang kerap digunakan oleh penonton dan kritikus bahwa mestilah sebuah karya ditumbuhkan oleh beragam elemen kebudayaan semacam itu.

RASANYA, sebegini saja dulu saya sampaikan. Lain waktu saya akan tulis surat atau semacamnya lagi untuk menanggapi apa yang saya rasa, lihat, dan dengar dari setiap pementasan kalian. Semoga kita semua diberi kesempatan luas untuk terus melakukan hal-hal yang menyenangkan dan menyehatkan seperti ini.

Salam ceria dan independen selalu!
(Tulisan tentang pertunjukan pertama dapat dibuka di sini.)

Posted at 03:54 pm by jimpe
shoutbox  

Sunday, August 19, 2007
Eduardo Galeano: Jazz-Louis Armstrong dan Tolstoy

1916: New Orleans
Dari perbudakan menjadi musik paling bebas, jazz melanglang buana tanpa kendali. Nenekmoyangnya adalah orang negro yang bernyanyi tatkala mereka bekerja di areal perkebunan Amerika Serikat bagian selatan, dan dibesarkan oleh musisi kulit hitam yang menghibur di kawasan pelacuran New Orleans. Band dan kelompok musik di rumah-rumah bordil itu, bermain tanpa henti, di lantai atas yang membuat mereka aman bermain musik dari suara gaduh dari arah jalan. Dari improvisasi mereka lahir musik baru.
Dengan tabungan pas-pasan dari hasil mengantar koran, susu, arang batu bara, seorang bocah dengan malu-malu membeli trumpet pertamanya seharga sepuluh dolar. Ia meniupnya dan musik pun menjulur keluar, keluar, dan menyapa hari. Louis Armstrong, seperti jazz, adalah cucu budak. Ia pun dibesarkan, seperti jazz, di rumah bordil.


1910: Koloni Maurisco
Pelarian Isaac Zimmerman, yang tersebab miskin dan sebagai Yahudi, berakhir di Argentina. Ketika pertama kali melihat segelas mate (teh herbal khas Argentina), ia menuangnya ke dalam wadah tinta, dan sebatang pulpen dijadikannya sebagai sedotan dengan membakar ujungnya. Di padang tersebut ia membangun gubuk, tak jauh dari gubuk pelarian lainnya yang berasal dari tempat yang sama, lembah di sekitar Sungai Dniester; dan juga di sanalah beranakpinak dan bertani.
Isaac dan istrinya cuma punya sedikit, bahkan nyaris tidak memiliki, barang berharga. Bahkan alat makan mereka jarang di atas meja, sehingga taplak yang berkanji itu masih sangat putih, motif bunga yang diberi warna, bahkan masih terasa harum parfum bau apelnya.
Suatu malam, anaknya datang ke Isaac yang loyo, dengan tangan menutup kepalanya. Lantaran cahaya lilin, mereka melihat wajah ayah mereka yang berlinang airmata. Mereka bertanya. Isaac yang agak kaget menjawab, ia baru saja sadar kalau di belahan dunia lain, Leo Tolstoy telah meninggal. Dan ia jelaskan tentang siapa gerangan teman lamanya kala masih di desa itu, dan bagaimana dia memanfaatkan waktunya dengan baik dan meramalkannya di saat lain.

Posted at 02:03 pm by jimpe
shoutbox  

Friday, June 29, 2007
Ini Indonesia atau Film India?

Perbaikan ruas Jl Perintis Kemerdekaan lagi-lagi makan korban. Kalau dalam tulisan yang terdahulu disebut pohon-pohon harus tumbang karena proyek , tapi ini kali warga sekitarlah yang jadi tumbal. Proyek itu juga mematahkan pipa saluran air bersih ke rumah warga, seperti yang terjadi Rabu (27/6) lalu. Walhasil, warga di Kompleks Ininnawa Jl Perintis Kemerdekaan Km-9 No76 harus rela hemat air. Bahkan beberapa penghuninya harus mengungsi mandi di tempat kerabat terdekat.

Saya pernah berpikir, kalau pohon tumbang begitu, bukan hanya aktivis lingkungan hidup yang jadi marah. Namun para pembuat film India akan sulit bernapas karena sesak dada melihat pohon-pohon dirobohkan. Hilang lagi tempat mereka menari dan meliuk, lenyap sudah batang mereka sembunyi saat menyanyi.

Matsui-san sendiri pada saya mengatakan, sudah menghubungi dan melaporkan tentang hancurnya pipa yang masuk ke rumah yang disewanya sejak setahun lalu itu ke pimpro, Oktavianus. Si pimpro sendiri akan mengoordinasikan ke yang berwenang, katanya. Bahkan pihak PDAM yang punya gawean juga sudah dikontak. Tapi penyambungan pipa baru dilakukan sehari setelah pelaporan.

Saya pikir, apa yang saya alami bersama para penghuni kompleks Ininnawa serupa yang kerap ditemui warga lain dalam kehidupan sehari-hari. Lapor dan petugas segera datang ... tapi beberapa lama kemudian.

Sebuah Kenyataan yang tidak jarang tidak terjadi di film-film India. Ada perkelahian antara protagonis dan penjahat. Begitu tokoh antagonis tak berdaya oleh sang jagoan, polisi-polisi datang dengan mobil bersirine dan lampu yang kedap-kedip layaknya lampu lantai dansa.

Tapi cerita saya ini tidak berakhir di sini. Sabar ...
Dari pukul 16.30 Wita sampai 18.00 Wita tadi, terjadi 4 kecelakaan. Iyya, empat! Yang pertama, motor cium motor. Dua-duanya segera dirumahsakitkan. Beruntung ada mobil puskesmas keliling melintas tak lama setelah kejadian. Nasib naas yang kedua karena ada seorang pengendara jatuh terpeleset dari badan jalan. Badan jalan kini lebih tinggi sekira dua jengkal dari bahu jalan akibat galian. Tabrakan yang ketiga, motor bersua mobil. Si penunggang motor keserempet angkot. Oleng. Tak bisa kuasai kuda besinya, ia menyerempet mobil baru yang ada di depannya. Tangan kanan si pengendara sakit. Lainnya tidak kurang suatu apa. Tapi si sopir yang baru dari Maros ke perjamuan kawinan itu ngotot. Goresan di bokong mobilnya harus dapat ganti rugi. Keduanya lama berdebat soal ganti rugi. Kira-kira sekitar pukul 19.30 Wita, polisi datang. Kami pun berteriak dari kafe "Huuuuu, film Indiaaa!"

Polisi yang datang itu melerai keduanya. Tapi tetap saja alot. Polisi tak bisa berbuat apa. Basri, si pengendara, akhirnya membayar ganti rugi Rp250ribu. Uang itu ia pinjam dari Accung--pengelola kafe Ininnawa--dengan jaminan motor dipegang Accung.

Debat alot selesai. Polisi pulang. Baru beberapa meter mobil putih polisi berangkat, kecelakaan lagi terjadi! Motor jatuh. Nyaris terinjak angkot. Untung, kali ini, polisi datang membantu. Si pengendara bangkit dan berangkat lagi. Si polisi pun pulang dengan membawa pulang dua motor kecelakaan pertama di bak belakang. Saya dan teman-teman yang melihat mereka pergi, harus siap-siap lagi dengan sejumlah adegan film India dalam kehidupan kami sehari-hari. Mungkin juga Anda akan mengalami. Bersiaplah!

Posted at 10:43 pm by jimpe
komentar (1)  

Friday, June 22, 2007
KEBETULAN

Lewat sms, seorang teman saya--yang saya yakin masih malu untuk disebut namanya di sini--bilang kalau ia tidak percaya 'kebetulan'. Kebetulan yang saya maksud adalah 'ketepatan waktu'. Mungkin juga ia bermaksud itu. Tapi entahlah, sejak berita ini diturunkan, ia belum menanggapi.

Awalnya, ia bete karena janjian dengan temannya dibatalkan oleh kawannya itu. Padahal, kata dia dengan nada yang mungkin masih gusar, karena janjian itu ia sudah bersiap dengan begitu baik. Apalagi ia sedang di sebuah kota yang membutuhkan siasat tersendiri kalau hendak keluar.

Saya bersetuju dengannya. Di manapun atau kapanpun, saya selalu berusaha untuk tepat waktu, meski kerap masihlah kedodoran. Tapi terus terang, kata saya saat membalas pesannya, saya pernah marah karena janjian dengan seseorang. Parahnya, saya sudah dalam perjalanan menujunya. Pokoknya sedikit lagi sudah sampai! Tapi dalam angkutan saya terima pesan kalau ia urung bertemu. Katanya ada sesuatu yang lebih tidak bisa ia hindari. Bukan lagi dongkol yang terasa. Jauh... justru murka! Biasanya saya lebih suka simpan. Tapi kali ini, saya tak tahan. Sejak itu, saya tak mau gegabah lagi berjanji. Saya pikir, janji pun membutuhkan kebetulan.

Kembali ke teman saya, ia belum juga memberi keterangan. Mungkin ia masih mencari sesuatu yang bernama 'kebetulan'.

Posted at 12:23 am by jimpe
shoutbox  

Sunday, May 27, 2007
Pepohonan Tamalanrea seperti Welenreng di I Lagaligo

Pelebaran ruas Jl Perintis Kemerdekaan yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar menjelang pertengahan tahun 2007, yang disebut-sebut sebagai salah satu pilihan kebijakan pemerintah dalam menangani makin tingginya volume kendaraan bermotor di Makassar, mengorbankan pohon-pohon di sepanjang jalan tersebut.
Tak ayal, pohon-pohon yang tumbuh rimbun sepanjang jalan besar ini jelas harus dihilangkan karena proyek pelebaran yang direntang kurang lebih 3000 meter tersebut. Sepanjang bulan Mei 2007, para pelintas menyaksikan para pekerja bersibuk menggali, mematok tanah, membongkar trotoar, dan menggergaji pohon-pohon rindang dengan menggunakan gergaji mesin tangan (chainsaw); berikut truk-truk pengangkut bangkai pohon.
Hanya sayangnya, penebangan massal pohon-pohon dalam proyek yang disebut bernilai Rp26 miliar itu dilakukan tanpa menanam pohon pengganti terlebih dahulu. Jelas sebuah proyek yang tak mengindahkan perbaikan mutu lingkungan hidup; sebuah kebutuhan yang tak bisa dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Lebih jauh lagi, kebijakan ini akan lebih mendingan bila pemerintah membagi bibit tumbuhan kepada warga untuk ditanam. Tapi nyatanya, selembar daun pun tak ada sama sekali. Memang ada dua bibit di tempat saya, sepertinya angsana (Pterocarpus indica), nyatanya pun bukan dari pemerintah. Pemberian dari teman-teman Korpala (Korps Pencinta Alam) Unhas, kata seorang teman.
Sebatang pohon rindang di depan Ininnawa ditebang. Begitu pula pohon angsana rindang di seberang jalan, depan showroom Mercedes Benz, tempat saya biasanya menunggu pete-pete, kini tak ada lagi. Betapa makin membakarnya matahari rasanya di Makassar sekarang.
Karenanya, bila ada urusan di luar yang mendesak, saya kerap harus berangkat menyelesaikannya di sekitaran pukul 09.00-10.30 Wita atau sekalian saja setelah matahari tergelincir dari ubun-ubun; kira-kira pukul 14.30 Wita.
Dalam rencana, perluasan jalan ini dimulai dari sekitaran Jembatan Tello hingga Pintu Satu Universitas Hasanuddin. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa perluasannya akan mengambil sisi kiri dan kanannya masing-masing sekitar lima meter. Ruas Jl Perintis Kemerdekaan yang kini masih empat jalur, berdasarkan kabar yang beredar di antara para tetangga, akan bertambah sekitar 8 jalur.
”Saya tak bisa bayangkan bagaimana susahnya menyeberang nanti kalau jalannya sudah jadi. Sekarang (yang empat jalur) saja sudah susah, apalagi nanti kalau sudah delapan jalur,” ujar Zainuddin, pemilik kios jasa penjualan pulsa seluler. Ia menimpal seperti itu lantaran membayangkan tentang kendaraan akan makin laju dengan bertambah lapangnya ruas jalan tersebut.
Hal yang sama sebenarnya sudah dirasakan beberapa kawan saya seperti Luna. Ia sering ogah naik motor bila datang ’main’ ke tempat saya, yang berada di sebelah kanan jalan dari arah pusat Makassar. ”Ngeri banget kalau mau nyebrang ke sini. Pada laju sih,” ujar Luna suatu ketika.
Selain melibas pohon-pohon, proyek ini mengharuskan bangunan wajib mundur beberapa meter dari jalan. Tapi yang mereka sayangkan karena pemerintah tidak gencar menyosialisasikan proyek ini. Lantaran itulah, warga memburu informasi pelebaran jalan di media-media lokal. "Setahu saya hingga kini belum ada sosialisasi dari aparat pemerintah terkait pelebaran jalan ini. Tiba-tiba alat berat sudah bekerja," ujar Syarifuddin, pemilik Warung Ikan Bakar Tamalanrea kepada Harian Fajar di edisi awal Mei 2007.
Bahkan di harian yang sama disebutkan, Jack, seorang pemilik usaha pengetikan mengatakan, pernah digelar pertemuan dengan Lurah Tamalanrea Indah, A Murtan. Tapi, pada pertemuan yang digagas warga itu tidak ada keterangan yang lebih detail perihal pelebaran. Murtan yang dikonfirmasi membenarkan belum ada sosialisasi. Tapi ”Pemerintah melakukan sosialisasi lewat media massa,” terangnya.
Pelaksanaan pembangunan seperti ini bukan yang pertama kali di Makassar. Pembangunan jalan layang (flyover) di kawasan Kilometer 4 sekitar Gedung DPRD Sulawesi Selatan itu pun demikian. Pohon-pohon tumbang, tapi saya tidak melihat, atau setidaknya keterangan dari Pemkot, apakah pohon-pohon itu sudah diganti atau ditebang begitu saja.
Di tahun 2005 lalu, Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI sendiri, menempatkan Makassar sebagai kota kedua yang memiliki tingkat polusi tertinggi di Indonesia setelah Palembang. Tingkat pencemaran yang membuat sesak dada warga Kota Ruko ini mencapai 0,272 g/l karena masih awamnya penggunaan bensin timbal. Standar ketentuan timbel di udara yang dibolehkan hanya maksimal 0,13 g/l. Bensin timbal bisa menyebabkan IQ anak-anak menurun, orang dewasa jadi mandul, bahkan ibu hamil bisa mengalami gugur kandungan, kata Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar ketika itu.

***

Pilihan mengganti pohon dengan bibit merupakan pilihan terbaik dari yang terburuk. Bukan cuma karena sebuah pohon untuk menjadi rindang perlu waktu setahun sampai dua tahun. Bibit pun, berdasarkan diskusi saya dengan seorang teman saya yang berkuliah di jurusan Geografi Universitas Negeri Makassar (UNM), Jalaluddin Rumi, nyatanya tumbuh manja layaknya manusia; perlu perhatian yang lebih. Mesti disesuaikan dengan analisa lahan dengan jenis tanaman.
Tanaman yang paling baik untuk pinggir jalan, sebut mahasiswa angkatan 2001itu, antara lain akasia (Acasia auriculiformia) dan pohon asam (Tamarindus indica). Kedua jenis memiliki akar tunggal yang menghunjam ke tanah, kemudian menyebar. ”Sehingga akarnya tidak sampai merusak jalan seperti yang biasa kita lihat di ruas-ruas jalan di sini (Makassar). Menggelembunglah, pecahlah,” kata lelaki berperawakan langsing yang bergiat jadi asisten dosen di jurusannya itu.
Bahkan gas buangan yang dihasilkan BBM seperti bensin, bila terserap ke tanah, akan menjadi racun bagi bibit yang telah ditanam. ”Debu juga bisa menghalangi pertumbuhan bibit. Karena debu menutup pori-pori daun dan menghalangi terjadinya fotosintetis,” paparnya bersemangat.

***
Protes ini kemudian saya obrolkan dengan perupa Firman Djamil dalam sebuah kesempatan saya bertandang ke studionya di Kompleks Benteng Somba Opu, akhir pekan kemarin. Ternyata lelaki kelahiran Bone 5 Februari 1964 itu setuju kalau kebijakan-kebijakan pemerintah itu tak pernah memerhatikan orang kebanyakan. Kalau dibuat misal, katanya, apa yang terjadi sekarang persis episode ditebangnya I Welenreng dalam epos I Lagaligo.
Ketika itu, Sawerigading merasakan dadanya kencang berdetak setiap menatap I We Cudai. Ia begitu yakin, kalau ia sedang dimabuk cinta. Tapi apa yang ia rasakan, tentulah sebuah hal yang terlarang. Namun hatinya tak bisa mengelak. Cucu Batara Guru, dewa yang diturunkan dari langit mengisi Dunia Tengah itu pun mengutarakan maksud hatinya kepada I We Cudai, yang tak lain adalah saudara sekandungnya.
I We Cudai sadar kalau cinta abangnya itu adalah perasaan yang terlarang. Karenanya, putri elok itu menolaknya dengan halus. ”Di Negeri Cina, ada putri yang berparas serupa denganku. Berangkatlah menjemputnya,” kata I We Cudai lembut; mencoba meluluhkan dada Sawerigading yang dipenuhi gebu hasrat.
Maka ditebanglah pohon I Welenreng di Mangkuttu untuk dijelma jadi kapal raksasa yang akan dipakai Sawerigading ke Negeri Cina yang berada jauh di seberang samudera. Begitu tumbang, sebuah bahtera pun siap dilabuhkan untuk berangkat ke negeri yang berada di ufuk timur Luwu itu. Namun rebahnya Welenreng juga mengakibatkan ribuan jenis burung harus kehilangan habitatnya.
Bahkan Buaja Tasie (Buaya Muara) dan Ula Baloe (Ular Pithon) marah besar karena pengrusakan yang dilakukan Sawerigading itu. ”Seandainya kau bukan anak dewa, sekali saja kukibaskan ekorku, kamu akan tenggelam di dasar laut,” cetus Buaja Tasie. ”Seandainya kau bukan anak dewa, sekali saja kutelan kamu akan binasa di dalam perutku,” tambah Ula Baloe, tak kalah sengit.
Cerita ini hanyalah episode kitab I Lagaligo tentang tumbangnya pohon raksasa dalam epos Bugis yang ditulis beratus tahun lalu. Namun gemanya terus terasa hingga sekarang. Layaknya karya sastra lainnya, potongan kisah ini seperti sebuah nujuman tentang semena-menanya orang-orang yang memiliki kekuatan untuk mengubah hidup orang banyak dan lingkungan hidup. Tak terang benar apakah Sawerigading usai menebang Welenreng itu menanam pohon penggantinya. Begitu pula sekarang, belum terdengar kabar perihal apakah Pemkot juga mengganti tanaman-tanaman yang mereka cabut dan tebang sepanjang jalan raya itu.

Posted at 10:57 pm by jimpe
shoutbox  

Sunday, April 15, 2007
Nonton Sabung Ayam di Toraja

Awalnya, ajakan menonton sabung ayam itu datang dari Adi, teman saya yang juga pemilik rumah toko di sekitar Pasar Sentral Makale, Tana Toraja. Namun waktu ia menceritakan bagaimana penonton dan pemilik ayam lari tunggang-langgang bila aparat polisi datang mengepung, kesan saya biasa-biasa saja; bahkan ogah-ogahan menanggapinya. Ah, itu sih sudah lumrah, kataku dalam hati.
Sewaktu bersekolah di SMA dulu pun saya bersama teman sering ke tempat sabung ayam yang berada di seberang sungai di kampung dulu. Apalagi kali ini yang mengajak adalah Adi, yang memang seorang penggila ayam sabung. Di salah satu lantai rukonya yang bertingkat tiga, saya dapati jejeran kandang bambu yang berisi ayam jantan melulu, dari anak ayam jantan sampai yang sudah dewasa; dari ayam kampung, ayam katai, ayam hutan, hingga ayam bangkok.
Ajakan itu saya tampik diam-diam. Tapi sepertinya, Julie, teman dari Kanada yang sudah dua bulan magang di Ininnawa, dan ikut dalam perjalanan ini, ingin sekali melihat adu ayam jago itu karena jelas ini benar-benar baru baginya.
Hari pertama adalah hari yang hujan. Kami hanya sempat datang ke Londa dan Kete’ Kesu. Di hari berikutnya baru kami sempatkan ke Pasar Hewan Bolu. Sekitar satu jam melihat tedong bonga (kerbau bulai) dan babi yang semok-semok, kami beringsut ke daerah jembatan untuk menunggu mobil yang hendak menuju ke Batutumonga. Awalnya kami ragu ketika Awal, kawan yang mengantar, mengajak ke tempat sabung ayam di Sa’dan. Tapi mobil angkutan yang siap ke sana sudah berhenti di depan kami.
Dengan menumpang mobil Kijang, kami berlima menuju ke Sa’dan. Kami hanya dapat kursi paling belakang dan harus duduk berdesakan. Dalam perjalanan, kami sempat berpapasan dengan dua mobil polisi. Satu mobil jip dengan sirine di atapnya dan satunya lagi mobil pengangkut personil dengan bangku berhadap-hadapan. Polisi itu, katanya, sepertinya baru dari lokasi sabung ayam. Tapi tak ada penduduk di atas mobil truk selain petugas. Jangan-jangan sudah bubar, timpalku.
Lima belas menit kemudian kami tiba. Tapi mobil yang kami tumpangi tak bisa masuk karena jalan disesaki motor dan mobil yang diparkir di pinggir jalan. Semua penumpang turun. Saya tertawa, ternyata segenap penumpang yang berada di atas mobil tadi punya tujuan yang sama, yakni menonton sabung ayam. Kami jalan kaki masuk ke penyabungan. Tak saya sangka, di sana sudah ada penjual makanan yang menghampar jualan di bahu jalan seperti penjual tenteng (kacang karamel berbungkus kulit jagung), belut (dari Bugis — begitulah yang sering saya dengar dari Awal dan Adi) di ember-ember, dan ballo (tuak) yang disaji dalam bilah bambu muda. Tak ketinggalan juga lotto (lotre totalisator atau undian dadu). Suasana di sana tak ubahnya pasar. “Ayo siapa yang mau merokok, cukup pasang seribu,” teriak si empunya usaha untung-untungan itu.
Turun ke bawah di sekitar bantaran sungai yang mengalir sampai ke Selat Makassar itu, tenda batangan bambu beratap terpal didirikan mengelilingi sebuah tenda kecil. Di bawahnya, seorang lelaki separuh baya, dengan parang diikat di pinggang, sedang meratakan tanah dengan cara menginjak-injaknya. Di sekitar arena, masih banyak kantong plastik penyok karena terinjak penonton. Sepertinya lahan itu adalah tempat persemaian.
Tidak berapa lama adu ayam jago segera dimulai. Dua orang menenteng ayam jantan bertaji masuk ke bawah tenda. Seorang di antaranya diberi sebuah bandana yang berhias bulu ayam oleh panitia. Cepat saja para penonton gaduh. Tenda digaduhi suara yang serupa dengan bunyi kodok di musim hujan, “Bekebekebeke … Bekebekebeke” sambil menyodorkan uang ke penonton lainnya; tanda mengajak taruhan.
Rupanya yang mereka maksud dalam teriakan itu adalah pa’beke’, orang yang diberi bandana (beke’) itu. Ikat kepala itu sendiri sebagai tanda agar para petaruh dan penonton tidak jadi bingung ayam siapa gerangan yang mereka jagokan. Tapi suara itu segera berhenti begitu dua ayam tersebut sudah dilepas oleh pemiliknya. Pertarungan dimulai!
Sesekali terdengar seruan panjang bersamaan “Ooooh!” dari penonton bila salah satu ayam mengumbar pukulan telak ke lawannya.
Yang ikut taruhan rupanya bukan cuma para lelaki. Di bagian tenda tempat saya menonton terdapat deretan perempuan muda dan tua. Mereka duduk membaur dan berteriak “bekebekebeke” mengajak uji peruntungan, baik sesama perempuan maupun menyodorkan uang taruhannya ke para pemuda dan bapak-bapak.
Di pertandingan yang ketujuh, saya yang sedang asyik menikmati kopi susu terkaget oleh seruan serentak “ooh!” yang pendek namun bulat dari penonton. Saya kaget berdiri mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Ternyata salah satu ayam yang berkelahi itu sekali pukul saja sudah roboh. “Kalau begitu, biasanya kena taji jantungnya,” terang Awal. Benar! Ayam itu langsung roboh. Panitia segera menghampiri bangkai ayam itu dan memotong bagian kaki yang bertaji untuk diberikan ke pemiliknya. Sementara bangkainya diberikan ke sang pemenang.
Paramisi sendiri awalnya hanya tradisi sabung ayam tanpa taruhan yang digelar untuk mengumpulkan orang sebanyak mungkin dan menghibur keluarga yang berduka. Mungkin semacam takziah-nya masyarakat Toraja. Tapi belakangan tradisi itu disebut-sebut mulai “dibisniskan”. Beberapa orang mengatakan, meski keluarga yang berduka enggan melaksanakannya, namun bila ada tetangga yang ingin menggelarnya, itu tidak jadi masalah. Selama si pelaksana diberi izin oleh keluarga yang berduka dan mampu menanggung semua akibat-akibat yang timbul karena penyelenggaraan paramisi, seperti membangun tenda sampai membayar upeti kepada petugas keamanan agar acara tak dilarang.

(www.voetsek.com)
Sudah rahasia umum kalau rata-rata membayar ‘izin’ acara itu sekitar dua puluh jutaan rupiah. Tapi pihak pelaksananya sedikit terbantu oleh ‘retribusi’ Rp50.000 dari setiap ayam yang bertarung. Dan adu ayam jago itu bisa sampai berpuluh-puluh pasang yang bertanding dan digelar hingga berhari-hari. Tapi hari itu, mulai sekitar pukul 14.30 sampai 16.30, baru sekitar 12 pasang yang bertanding. “Kayaknya cuma sedikit yang bertanding. Kalau banyak, pasti mereka antri dan jedanya tidak lama,” ujar Awal.
Dari duabelas pertandingan yang saya saksikan selama kurang lebih dua jam itu, rerata setiap partai hanya menghabiskan waktu sekitar 1-3 menit saja. Ada juga yang tak butuh hitungan menit seperti partai yang menewaskan ayam putih tadi. Padahal memelihara dan mempersiapkan seekor ayam sabung ternyata butuh waktu sekira tujuh bulan hingga setahun.
Untuk yang dikembangbiakkan di kota, ayam itu sebaiknya baru mulai dipisahkan dan dirawat ketika sudah berumur 3 bulan. Lain soal kalau ayam yang biakkan di desa; cenderung tidak merepotkan.
Ayam kota mesti cepat dirawat dan dipisahkan dari kawanannya karena tidak memiliki ruang luas dan lapang yang dibutuhkannya untuk mengembangkan kemampuannya ketika bertaruh nanti, semisal sepakan, kepakan sayap, sampai pada soal makanan sehari-hari si ayam. Lain hal kalau ayam yang tumbuh di desa, yang menurut seorang peternak ayam sabung, Awal (28), tidak begitu merepotkan. Makanan bergizi tersedia di desa. “Ayam juga butuh ruang yang lapang untuk bermain dan bisa mengembangkan badannya,” katanya.
Setelah besar dan siap tarung, ayam-ayam itu dipilih lagi berdasarkan sisik dan bulu. Sisik besar di antara tiga sisik kecil atau sebaliknya, sisik kecil di antara tiga sisik besar, adalah sisik yang Adi sebut sisik yang kuat. Karena sisik itulah yang menentukan kekuatan sepakan si ayam. Begitu pula dengan bulu. Ada bulu tertentu, yang menurut jebolan salah satu universitas di Yogyakarta itu menentukan ketika berhadapan dengan lawannya. “Itu makanya ada istilah kalah bulu,” imbuhnya.
Ada juga yang tak kalah penting, yakni kecenderungan gerakan si ayam sendiri. Dikatakannya kalau ayam yang pukulan pertamanya adalah melompat tinggi, maka ia tidak akan mempertahankannya. Karena ayam yang lompat tinggi sangat berisiko kalau disabung. Soalnya, kalau lawannya melompat belakangan, ia bakal kena taji. Apalagi bagian dadalah yang paling rawan di badan ayam.
Awal tiba-tiba menyela. Ia berbincang dalam bahasa Toraja dengan Adi perihal ayam yang Adi jual ke salah seorang temannya sebelum berangkat, juga diikutkan dalam paramisi. Saya pun mengaku juga sempat melihat lelaki berkumis berjaket biru muda memasukkan ayam putih itu ke dalam jaket tipisnya itu di depan ruko Adi. “Ya ayam itu. Itu saya jual karena suka terbang kalau baru berkelahi,” kata Adi sengit. Ayam itu, katanya, dihargai Rp190 ribu.
Awal menyela lagi. Ia menanyakan apakah saya melihat ayam yang sekali pukul langsung mati di Sa’dan tadi.
Saya mengangguk. “Yang putih, kan?”
“Nah, itu yang Adi jual kemarin; waktu kau baru datang, duduk di depan ruko!” seru Awal.
Oh!

Posted at 08:04 pm by jimpe
shoutbox  

Thursday, March 29, 2007
Burung-burung Terlarang

Tahanan politik berkebangsaan Uruguay itu dilarang bercakap tanpa izin, bersiul, tersenyum, bernyanyi, berjalan lekas, atau menyapa tahanan lain; juga tak boleh menerima gambar wanita hamil, orang berpacaran, kupu-kupu, bintang, bahkan gambar burung.

Pada sebuah Ahad, Didasko Perez, guru sekolah yang dianiaya dan dikerangkeng lantaran dianggap berideologi politik menyimpang, dikunjungi oleh anak perempuannya, Milay, yang berumur lima tahun. Ia membawakan ayahnya gambar burung. Tapi penjaga merobeknya di gerbang penjara.

Di Ahad berikutnya, Milay membawa lagi gambar, tapi kali ini gambar pohon. Tentu gambar pokok kayu tak dilarang masuk ke bilik tahanan. Didasko memuji gambar anaknya itu dan menanyakan bulatan berwarna yang tersebar di pucuk-pucuk pohon, juga bulatan kecil yang setengah sembunyi di antara dahan dan ranting.

“Buah jerukkah? Atau buah apa mereka itu?”

Sang anak merapatkan telunjuk ke bibirnya. “Sssssshhh.”

Lalu berbisik ke telinga ayahnya: “Ayah bodoh. Tidakkah Ayah lihat mereka adalah mata. Itu adalah mata burung-burung yang aku selundupkan untuk Ayah.”

(Dikutip dari Century of the Wind; Eduardo Galeano)

Posted at 09:59 pm by jimpe
shoutbox  

Sunday, January 28, 2007
Masa Kecil, Episode Hari Tanpa Matematika

Di suatu hari yang hujan, aku tak mau berangkat ke sekolah yang hanya 300 meter dari rumahku. Tapi lantaran hujan, aku pikir, sekolah telah terendam karena hujan ini, kataku dalam hati seraya memandangi orang-orang yang lewat berpayung atau terbungkuk mengayuh sepeda kencang.
Saya berkeras tak masuk sekolah. Memang ibu sudah memberi anggukan. Tapi ayah bergeming. Tapi karena pikirku, jalan masuk sekolah tentu saja terendam pula, aku membulatkan untuk tidak pergi. Dan aku katakan sekali lagi ke ayah untuk meminta anggukan, tapi gelengan kepala yang aku peroleh. Dengan begitu, saya harus berangkat, meski dengan sedikit repot memakai jas hujan cakar kesayanganku.
Sebenarnya, ada rahasia yang baru aku ungkap mengenai ini. Ketika itu, saya sudah menitip izin pada Sultan, adik kelas yang juga tetangga samping rumahku untuk memberi tahu Ibu Ros, wali kelasku bahwa saya sedang sakit. Tapi lantaran ayah memaksa, saya akhirnya muncul juga di pintu kelas.
Wali kelasku, Ibu Ros, tentu saja terperangah mendapati saya akan masuk.
“Saya kira kamu sakit?”
“Iya Bu. Tapi saya paksa datang,” kilahku.
“Ayo masuk kalau begitu, jangan cuma di pintu,” timpal perawan bertubuh subur itu.
Saya pun masuk dan mengikuti pelajaran, dengan kepala kerap sengaja saya baringkan saja di atas meja. Kenapa aku lakukan? Ya apalagi kalau bukan malas. Bosan sekolah untuk hari itu. Sekalian mempertegas kalau alasan sakit saya bukan bohongan.
Tapi Ibu Ros yang sejak tadi memperhatikan menyuruh saya pulang saja. Wah, jam dinding kelas masih menunjukkan pukul sepuluhan! Kalau saya pulang, saya mesti sembunyi di rumah siapa dulu menunggu jam pulang agar ayah tak marah? Karena aku pikir tak ada tempat sembunyi, akhirnya aku berkeras untuk tinggal di kelas saja. “Tidak apa-apa kok Bu,” ujarku.
Sebenarnya hari itu memang hari yang sangat membosankan. Bagaimana tidak, pelajaran Matematika diajarkan pada pukul 11.45 Wita. Ya memang sih hanya satu jam pelajaran, tapi tetap saja menyiksaku. Akhirnya, aku putuskan untuk memegangi terus menerus perutku, dengan penuh harap Ibu Ros melihatku dan bertanya lagi ‘kamu kenapa’.
Akhirnya momen itu tiba. Ia memandang ke arahku, dan bertanya, “Kamu kenapa?” Pertanyaan yang benar-benar aku harapkan.
“Perutku sakit, Bu,” ujarku, dengan wajah kutekuk semengkerut mungkin agar sesi sandiwara menahan sakitku bisa sukses. Wajah-wajah teman menoleh ke arahku. Ada kasihan, ada pula yang seperti masih bertanya ‘apa yang terjadi’.
“Perutmu sakit sejak tadi?” tanya Ibu Ros.
“Baru, Bu!”
Mendengar jawabanku, ia menyuruh kawan depan bangkuku, Nurlina, untuk segera mengambil segelas air hangat dan sendok. Sementara ia menuju lemari kelas untuk mengambil minyak Tawon. Begitu Nurlina datang, segera dituangnya minyak gosok itu ke sendok dan menyodorkannya padaku. Awalnya memang ragu, aku hendak diapakan. Tapi mendengar Ibu Ros mengatakan kalau meminum minyak gosok itu akan menyembuhkan perut yang sakit, aku pun buka mulut dan menelan segera cairan berminyak itu. Ibu Ros kemudian segera mengambil segelas air hangat dan menyodorkan ke aku untuk segera meminumnya pula. Tigaperempat gelas air hangat telah masuk ke perutku. Tapi rasa minyak gosok tak mau berhenti.
Tak berapa lama, Ibu Ros merasa saya harus pulang saja karena kondisiku. Untuk kali ini, saya akhirnya mengalah. Ya hitung-hitung menghindari pelajaran Matematika. Maka kuraih tasku dari samping bangku dan melangkah pergi. Jalanku ketika itu sengaja kupelankan. Sandiwara berjudul Sakit Perut belum selesai. Penonton yang terdiri dari 38 kawan sekelasku plus Ibu Ros, harus kuyakinkan bahwa kejadian ini benar adanya.
Pelan tapi pasti, kaki coba kuseret untuk menimbulkan efek gerak lambat menuju pintu kelas. Hawa luar kelas begitu segar rasanya masuk dada kurusku. Mendung masih langgeng. Air masih menggenang. Tiba di luar kelas, aku coba duduk sejenak di lantai kelas untuk melepas sepatu. Maklumlah, air masih menggenang di jalan keluar sekolah.
Dalam hati, aku sangat gembira bisa lepas dari penjara Matematika. Apalagi aku bisa pulang lekas meski kebingungan harus ke mana dulu menunggu jam pulang sekolah, untuk menyamarkan kebohonganku ke ayah.
Aku melangkah. Sepatu kutenteng. Jari-jari kaki kecilku merasakan dinginnya air hujan yang menggenang di sepanjang jalan yang aku lalui. Aku masih mencoba merasakan pula kebebasan ‘hari tanpa Matematika’-ku dengan mengambil jalan memutar. Kali ini, saya punya tujuan, yakni pasar. Pasar yang memang berhadapan dengan rumahku adalah tempat yang paling tepat untuk sembunyi sementara sambil menghabiskan uang saku Rp100. Aku membeli biskuit dan es lilin, meski hujan masih turun. Semua aku lakukan untuk menghilangkan aroma minyak Tawon di mulutku.

Posted at 11:39 pm by jimpe
shoutbox  

Wednesday, January 24, 2007
PERTEMUAN

masing-masing kita membawa bungkusan;
buah tangan buat perjamuan demi mengelukan pertemuan.
aku cemburu tak pernah bisa mendahuluimu setiap tanding lari.
sedang engkau terus mengelus kepalan lantaran sesat kutinggalkan
di pinggir hutan.
lalu kita melepas ludah, berjanji untuk saling hapus
nama di sajak-sajak.

sekarang berdua saling pukul bahu dan punggung sebagai genderang
pengenang. kita jarang lagi bertemu, sedang engkau tahu,
sahabat adalah musuh abadimu.

kawan, masing-masing kita pergi jauh, memanjati
pohon di kebun yang berbeda. dendam yang kau tanam itu
berbuah lebat. dapatkah kita cicipi segera buahnya?
Seiris untukmu,
seiris untukku,
seiris lagi untukmu,
seiris juga untukku...

ini aku bawa pula buah. harumnya seperti dendam yang masak
di pohon. masih banyak. engkau tahukan aku tak bisa
habiskan sepi ini sendirian.

[01.2007]

Posted at 11:57 pm by jimpe
shoutbox  

Previous Page Next Page