|
|
 |
Sunday, December 09, 2007
Siswa SMPN 24 Makassar 'Menyulap' Sampah
Banyak cara mengubah sampah menjadi barang berharga. Bagi pelajar Kelas II SMP Negeri 24 Makassar, sampah disulap jadi karya seni. Di bawah bimbingan perupa Firman Djamil, mereka kumpulkan kain buangan penjahit yang ada di sekitar mereka. Hasilnya? Tidak kurang seratus lukisan kain perca mereka rampungkan. Ini sebuah tawaran metode pendidikan lingkungan hidup yang dapat direkomendasikan bagi kalangan pendidik. Bisa pula menjadi protes halus mereka terhadap pengelolaan sampah selama ini di Makassar.
”Lihat warnanya!” ”Iya, khas anak-anak.” Yang tengah dibincangkan dua lelaki dewasa pada siang 28 Desember itu tak lain lukisan karya keroyokan Harson, Jihadi, Mariani, dan Neitha, siswa Kelas II SMPN 24 Makassar. Lukisan fotografik tanpa judul mereka merupakan salah satu dari seratusan karya lukisan kain perca siswi-siswa sekolah yang sama, ditampilkan di Ruang Pameran Komunitas Ininnawa, 27 November-1 Desember lalu. Lukisan tersebut menggambarkan seekor ikan kecil berkepala biru laut, mata putih, siripnya berwarna kuning, ekornya merah-hijau, dan bersisik hitam berenang di antara gelembung udara yang biru. Di depannya menganga ikan lain yang jauh lebih besar. Gigi tajam si besar siap meremuk tubuh si kecil. Ikan raksasa itu bermulut biru, kepala coklat, mata hitam-putih, dan berbintik bulat besar merah kuning. Benar. Sepintas lukisan itu bernuansa layaknya kanak-kanak dan remaja. Penuh warna. Dijejalkan begitu saja. Meski bagi saya, lukisan itu benar-benar mencengangkan. Warna dimasukkan dalam bingkai tanpa ada saling tabrak. Begitu padu. Bahkan sangat ceria. Ini tentu menunjukkan bagaimana mereka memadukan selera empat perancang dan pembuatnya.Namun bila melihatnya lebih dekat lagi, lukisan itu makin menarik. Guratan kasar terlihat jelas di kepala ikan. Sang pembuat rupanya menggunakan kain ’kulit jagung’—lantaran bertekstur laiknya kulit pembungkus buah jagung. Seakan-akan pembuatnya ingin menunjukkan bahwa rupa penguasa dan penindas memang buruk adanya. Baca selanjutnya di s i n i.
Posted at 02:13 am by jimpe
Tuesday, November 27, 2007
Kursi Pilkada Dibakar untuk Menjamu Warga
Dua bilah bambu, tempat menggantung tiga tanda peringatan bagi pengendara, kini terpasang masing-masing di sebelah kanan dan kiri jalan Jalan Perintis Kemerdekaan Km 9 Tamalanrea. Rambu yang terpasang di depan gedung Mercedes-Benz dan halaman kompleks Komunitas Ininnawa itu digunakan para pejalan kaki bila hendak menyeberang. Maklumlah, ramainya jalan poros itu tetap saja tak membuat warga sekitar merasa aman menyeberang, meski Pemerintah Kota Makassar telah melebarkannya sampai sekitar 20 meter. Baca selanjutnya ...
Posted at 12:10 am by jimpe
Saturday, November 24, 2007
“Pejabat Indonesia ini narsis dan riya' (memperlihatkan ibadahnya kepada umum),” kata Gus Dur suatu ketika. Dia lalu mengisahkan seorang istri pejabat Indonesia yang dijamu makan malam dalam sebuah kunjungan ke luar negeri. Dalam kesempatan itu, kata Gus Dur, si nyonya pejabat ditawarkan makanan pembuka oleh seorang pramusaji, “you like salad, madame?” “Oh sure, I like Salat five time a day. Shubuh, dzuhur, asyar, maghrib and isya,” jawab si Nyonya percaya diri.
untuk anekdot lainnya, silah klik di sini.
Posted at 10:03 pm by jimpe
Saturday, November 10, 2007
Para Pendoa dan Pengharap
seperti hari-hari biasa, doa-doa dilayangkan agar segalanya menjadi lebih baik dan berjalan lancar. tapi hari itu, selain doa dalam hati, beberapa saudara-sahabat-handai taulan saya mengirim doa lirih, pengingat yang mengajak merenung, juga harapan yang sayup-sayup dalam bentuk yang lain. ini beberapa di antara mereka. tapi begitulah yang terjadi; tak akan pernah bisa membalas apa yang mereka berikan kepada saya. rasanya, selalu, tak akan pernah setimpal.
Daeng Nuntung CERUTU ITU BERTANDA "J”
Jika hari ini adalah kemarin, mungkin kursi ini telah ku lamming buatmu. Maafkan jika kuandai masa laksana sedang meneguk secangkir kopi pahit tanpa manismu lagi.
Demikianlah adanya, mengapa Jendela hatimu seakan lapuk dimakan cemburu yang merayap rayap? Oh kesi’na, kenapa gitar tua itu kau mainkan lagi.
Kau sandingkan pula dengan keyboard yang aneh, yang memainkan waktu seperti hanya hitam putih saja yang hadir di sekitarmu.
Senandung “putucangkir” yang selalu kau nyanyikan di pondok Nurlina daya tariknya telah pupus larut dalam iming Maccaroni-mu.
Melupakan cerita kita di sudut Tamalanrea, di suatu senja nan getir Oh Andik…
Di sudut meja bambu bertuliskan Ininnawa ini, buku-buku cinta Romeo bersaksi Tahukah engkau, aku pun pun tetap berharap penuh dalam siksaan sejarah kita Di kertas bersuara ini, ‘ku ingin cintamu lantak di bayang asa pagi Tak kan kubiarkan mata menjadi sungai kering, sayu dan sembab untuk kesekian kalinya.
Oh Andik… Jika kelak engkau bertandang lagi, Ragaku telah jadi kotak hitam berlogo “J”. Jiwa dan ragaku di sana, berbaring bersama cerutu Khairil…
(http://wordsturbulence.wordpress.com) ----------------------------------------- Erwin Saputra
wajahmu kusam pagi ini, seperti bait lagu dengan denting-denting gitar lagu klasik yang sering kau mainkan jika aku datang berkunjung wajahmu aku masih ingat mengalunkan senyum jika aku datang menyodoriku harapan-harapan namun tidak dengan semangatmu!! dia keras seperti baja tidak seperti pohon-pohon yang telah tumbang di depan rumahmu dijadikan debu-debu oleh para penguasa kota hari ini.. denting jam yang dibelikan Ibu mengingatkanku padamu... ---------------------- Lily Yulianti USIA :untuk jimpe
usia bertanya padamu: tidakkah kau sia-siakan aku? karena kutemani kau selalu meski tak selalu kau mau tahu
hari ini usia duduk di depanmu berharap kau menjawabnya
kau mengulang janji, menyesali yang tak tertunai berbalik menghiba cemas pada usia: "bagilah rahasia itu, sampai kapan kau bersamaku?"
usia berkata padamu: aku mencatat peluh dan tangismu aku lebih lekat dari bayang-bayangmu aku mengantungi hitungan hidupmu
usia tak mau membagi rahasia itu, namun masih berbaik hati menghadiahimu cermin sebelum kembali menyusup dalam kesadaranmu mencatat langkah, rencana, bahkan diammu
ly tokyo 8:45 am/6 November ----------------------------- M Aan Mansyur MENGAPA KAU BERULANG TAHUN DI MUSIM HUJAN? –jimpe
Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan? Benda-benda seluruhnya sedang belajar bersedih: Kursi dan meja masing-masing seperti seorang kekasih baru ditinggalkan. Penjual putucangkir dan jendela kayu di wajahnya cuma ada sepasang mata sayu, mata yang layu. Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan? Suara-suara seluruhnya yang terdengar hanya perih: Denting sendok pada cangkir kopi.
Ada yang memilih mendengar rintih biola daripada getar gitar yang lirih. Keyboard komputer bicara tentang kertas suara pemilu jatuh ke kotak dari jari seorang pemilih yang terisak pilu.
Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan? Agar aku bisa kembali muda seperti pohon, katamu, yang oleh musim hujan daun-daunnya kembali hijau.
Biblioholic, 23:55, 04/11/07 (http://pecandubuku.blogspot.com) -------------------------------- M Hasymi Ibrahim DEMI MASA
masa, seperti juga cahaya telah merambat sampai sumsum berpendar dalam tatawarna yang baur membentuk tanya tak habis-habis :di manakah sesungguhnya ajal terletak?
engkau pernah menyebutnya, di ujung tetapi orang-orang justru mengatakan, pada awal lalu engkau dibimbangkan kesangsian karena ternyata dia dekat urat lehermu.
masa, seperti juga cahaya telah dengan setia mengiringmu menapak langkah menuju puncak menjelma usia yang engkau sandang kemana-mana sebelum akhirnya menjadi tiada.
Waspadalah !
Jkt, 6/11/07 --------------------------------- Mustamin Al-Mandary AKU INGIN MENGENALMU SEKALI LAGI untuk Jimpe Aku mengenal namamu tahun lalu, bukan lewat lagu, tetapi melalui buku. Aku mengenal wajahmu tahun ini, ketika aku menemuimu di depan kedai, di bangunan megah tempatmu mengisi hari-hari, menulis kepedulian di depan komputer ditemani kopi. Kuulang doa sederhanaku hari ini, Doa ulang tahun untukmu yang sudah kurapalkan kemarin, Dan aku ingin mengenalmu sekali lagi, Saat kamu bersama seorang Kekasih, yang menemanimu menenun hari. Maaf, aku tidak bisa menulis puisi, dengan baik, seperti yang lain. Kuberi saja doa walaupun aku tidak tahu akan diterima. Mus Balikpapan, 6 November 2007 -------------------------------- Nurhady Sirimorok JIMPE UNTUKMU bungabunga pendar di keliling rumahmu burung berlompatan di pekaranganmu gadisgadis berceloteh diberandamu anakanak bernyanyi diiringan musikmu
bukitbukit tersenyum padamu awan selalu melindungi jalanmu pematang setia mengantarmu debur sungai tak alpa membasuhmu sungguh masa tua itu bagimu adalah masa tua yang menghiburmu aku cuma ingin ada bersamamu menikmati kisah ayunan langkahmu ----------------------------------- Ruslee BERAPA SISA UMURMU PAGI INI, JIMPE?
sedari subuh aku sudah berdiri depan kotakmu temang coba mencari jendela berkusen semangat yang pernah kau kapuri dengan renyah tawamu dulu di Puntondo aih rupanya aku agak sial pagi ini
hanya kudapat dengkuran pagi yang berat dan remah putu cangkir pada keyboard yang berhiaskan sendutan rokok dan sebuah puisi tentang cara membunuh lupa yang mungkin telah diakhiri oleh kantuk pada pejam matamu yang berbau bantal itu kulemparkan dua tanya untuk kau jawab di mimpi pagi mu ini.
umur berapa kau pagi ini, jimpe?
adakah seperti pagi yang lain memamah janji memilin waktu dan mengakrabkannya dengan kertas dan pena
ataukah umur hanya seperti dentum suara balok pada mesin tenun dikolong rumah seperti yang kujumpai di sempangnge datar, dan hanya berarti bahwa pagi sudah datang dan tangan-tangan perempuan ber-cello itu ramai mengisi umur dengan nyanyi sanjak pattirosompe menunggu para lelaki bersarung pulang
berapa sisa umurmu pagi ini, jimpe? sudahkah kau hitung berapa bait puisi yang kau bagi untuk teman2 kecilmu yg sedang mengayuh rindu pada sepetnya bau kertas beraroma tengik bertuliskan nomor hape penjual ikan di Karuwisi atau bisa jadi seorang remaja puber yang mencari cinta di Pasar Terong
sudah puaskah kau menyeruput kopi di cangkir setiap siang kala terbangun dan memandangi selokan yang bersampah, sampah yang didandani bau busuk seperti yang kupelihara bersama lalat di Pannampu itu.
maafkan aku tak menghadiahkan kecupan pagi, teman untuk hari dimana kau mungkin sedang berbahagia dilumuri ucapan dan kecupan (punna upa’) selamat
ini hanya pusaran kata yang mungkin nirmakna bagimu atau mungkin cuman ocehan yang berlalu seperti angin hilang, selepas nafas memburu segar atau hujan mencari dedaun untuk dimandikan
atau seperti telaga yang tumpah mencari selokan atau seperti pesisir yang kehilangan nyiur dan sampan para nelayan atau seperti bapak yang sedang menunggu putri yang dijanjikan
semua hanya mungkin, seperti ucapmu dulu. selamat ulang tahun teman.
(http://daengrusle.com) --------------------------------
Posted at 10:16 am by jimpe
Tuesday, November 06, 2007
di hari penyoblosan, narsis saya jadi kambuh. saya rasa, ulangtahun saya dirayakan oleh sekitar 5 juta pemilih, yang dibayang-bayangi 5 ratus ribu golput. sebenarnya sehari sebelumnya, saya berencana datang ke tps. kartu pemilih saya, di rumah kakak di btp, ditera lahir tanggal 10 november. padahal sejatinya, saya lahir 5 hari sebelumnya. saya ingin datang ke tps. ingin tahu saja, apa bisa menyoblos dengan data yang tak akurat itu. kira-kira dicocokkan dengan data di ktp tidak? kalau mesti pakai ktp, apa saya dibolehkan masuk dengan data yang tak akurat itu? tapi rencana itu saya putuskan tidak di pagi harinya. ternyata sebuah pekerjaan yang memiliki deadline saya harus selesaikan hari itu juga.
malam sebelum hari penyoblosan, saya bertemu seorang teman, andri yang mengaku punya dua kartu pemilih. parahnya di alamat yang sama. teman satu lagi, berpengalaman serupa. tapi bedanya dia terdaftar di alamat beda: satu di rumah yang didiaminya sejak dua tahun lalu, sementara pula ia tercatat di rumah orangtuanya. pulang dari bertemu dengan dua teman itu, saya naik taksi. si sopir taksi, ismail, mengaku juga dua kartu pemilihnya, di alamat yang sama pula.
beberapa hari sebelumnya, saya pernah ngobrol dengan seorang penambal ban di sekitar ininnawa. dia mengaku urung ikut konvoi kampanye. kata dia, cuma dikasih 10 ribu rupiah untuk bensin. "ah terlalu sedikit. belum makan, belum lagi kalo terjadi apa-apa di jalan," kata dia.
hiruk pikuk kampanye memang terdengar dari jalan. rombongan motor yang menguasai jalan jelas terlihat. panji, kaos, truk penuh penyokong, tumpah di jalan raya. lepas dari mereka, suara ambulans yang memang tiap hari langgar di jalan besar terdengar dari jauh. kalau sudah terdengar, berhati-hatilah! ujung tombak rombongan pengantar jenazah itu segera meminta anda menepi dengan cara yang tidak ramah; bambu dengan bendera putih dikibaskan menghalau orang untuk menepi, seperti gembala mengatur hewan piaraan.
setiap hari, hingar kampanye juga terlacak di harian lokal. saling klaim-baku sindir bukanlah hal yang baru. hal pertama yang saya kira-kira tak lain biaya advetorial kampanye. saya pernah bekerja di sebuah harian di kota kelahiran saya, balikpapan, biaya advetorial sehalaman penuh berkisar 35jutaan untuk sekali tayang (sehari). koran tempat saya bekerja 2002-2004 itu bertiras tertinggi di kaltim. kalau sudah begitu, saya langsung membuat hitungan kasar tentang biaya per hari yang mesti dikeluarkan masing-masing kandidat kalau masing-masin memborong 4 halaman? 35 juta kali 4 halaman dikali 10 hari? hmmmm ... 1,4 miliar! angka ini, bisa jadi, hitungan yang pantas. karena sebelum pemuatan advetorial, kedua kubu calon orang nomor satu di sulsel itu menandatangani MoU dengan media bersangkutan. dalam pengalaman saya, sekali lagi, penandatanganan seperti itu, di media tempat saya bekerja dulu, dilakukan bila nilai transaksi itu besar.
ya, sejauh ini memang, dua kandidat yang habis-habisan membombardir media dengan advetorial. saya sendiri mikir, kalau begini, cuma media dong yang jadi kaya? terus yang lain gimana?
Posted at 11:31 am by jimpe
Monday, October 29, 2007
satu koma dua juta sehari ...
don't get any big ideas they're not going to happen you paint yourself white and fill in the noise but they'll be something missing
and now that you've found it- its gone and now that you feel it- you don't you've gone off the rails
so don't get any big ideas, they're not going to happen you'll go to hell for what your dirty mind is thinking
judulnya nude, salah satu lagu terbaik radiohead di in rainbows yang diluncurkan pertengahan oktober baru-baru ini. seperti nama album terbarunya, in rainbows, saya bayangkan radiohead sekarang sedang di pelangi bersantai-santai. satu koma dua juta kopi album itu terjual pertengahan oktober lalu, dan ... cuma sehari. bukan main! tapi jangan coba cari di toko kaset terdekat di kota anda. album ini cuma dijual via internet. lebih istimewanya, mereka pakai metode "name-your-price". kalau diartikan semena-mena, ya kurang lebih "terserah kekuatan kantongmulah". tapi konon, ini katanya lho ya ... harga mengunduh 10 lagu via website mereka itu berkisar satu poundsterling (12ribu rupiah gitu ya?!) strategi menjual "name-your-price" ini bikin kaget orang sejagat. mana ada band seterkenal mereka mau menebar harga seperti itu. apalagi membeli file high-quality MP3 begitu semurah itu. tapi sebelum mereka, prince dan the charlatans juga menjual lagu-lagunya lewat jaringan internet. bisa jadi, mereka sadar, kalau daya jelajah internet makin kuat. orang bebas mengkopi file di mana seperti multiply. jadi ya, mau tidak mau, mungkin ini juga yang mereka lihat. tapi yang pasti, berdasarkan beberapa situs, metode menjual ini mereka pakai begitu lepas kontrak dari label mereka, EMI. jadi bebaslah mereka melakukan apa saja semau mereka. versi cd tetap mereka pasarkan. cuma desember nanti baru disebar. kotak cd itu berisi dua keping cakram padat itu punya bonus track, artwork, tambah sebuah buku. tapi ada 'tapinya'. harga itu ... 40 poundsterling! lagu-lagunya sendiri bagaimana? ya, album terbaik radiohead setelah OK Computer!
Posted at 01:37 am by jimpe
Friday, October 12, 2007
Enrique dan Dua Sepatu Kiri
Seorang anak Honduras, Enrique, berangkat mencari ibunya di Amerika Serikat. Perjalanan yang brutal dan mematikan ia lalui demi satu tujuan: berkumpul dengan ibunya yang meninggalkannya sebelas tahun lalu. Dengan sepasang sepatu kiri, ia menyeberang ke AS. Lebih lanjut dapat dibaca di sini.
Posted at 05:28 pm by jimpe
Monday, October 01, 2007
Allah, berilah saya kekuatan, termasuk menghormati yang tidak berpuasa...
Posted at 03:43 am by jimpe
Tuesday, September 25, 2007
Tentang Seorang Penari dari Galeano
1916: Buenos Aires Isadora Dengan bertelanjang kaki, bugil, dengan hanya ditutupi secuil kain bendera Argentina, Isadora Duncan menari diiringi lagu kebangsaan di sebuah kafe mahasiswa di Buenos Aires. Keesokan harinya seluruh dunia tahu perihal kejadian tersebut. Produser sebuah acara seni memutuskan kontraknya, keluarga-keluarga baik mengurungkan reservasi mereka di Colon Theater, sementara kalangan wartawan mendesak agar perempuan dari Amerika Utara itu segera diusir karena tindakan yang dianggap menodai lambang nasional Argentina itu. Isadora tak mengerti mengapa reaksi sebegitu keras terjadi. Tak ada protes dari orang Prancis ketika ia melakukan hal yang nyaris serupa, menari dan bertelanjang dengan hanya mengenakan syal, dengan iringan lagu Marsellaise. Jika seseorang bisa menarikan emosi, jika seseorang bisa menarikan sebuah ide, mengapa tidak dengan lagu kebangsaaan? Kebebasanlah yang salah. Perempuan dengan mata bersinar indah itu dinyatakan sebagai musuh sekolah, perkawinan, tarian klasik, dan apapun yang berbentuk pengekangan. Dia menari untuk memeroleh kegembiraan dalam laku menari itu sendiri; ia bergerak apa yang ia inginkan, ketika hasrat itu datang, bagaimana ketika ia ingin melakukannya; dan, sebelum musik lahir di tubuhnya, orkestra pun menunduk hening dahulu.
Catatan: Isadora Duncan (27 Mei 1878-14 September 1927) adalah seorang penari dari Amerika Serikat. Dia dianggap sebagai Ibu Tari modern. Meskipun tidak pernah menjadi sangat terkenal di Amerika Serikat, dia tampil di seluruh Eropa dan pindah ke Paris, Perancis pada tahun 1900. Pada tahun 1922 dia menikah dengan seorang penyair dari Rusia, Sergei Yesenin yang 17 tahun lebih muda daripadanya. Dia menulis sebuah autobiografi, Ma Vie, dan kisah hidupnya difilmkan dengan judul Isadora pada tahun 1968 (diolah sekadarnya dari sini). Sementara Colon Theater adalah salah satu opera house yang terkenal di dunia. Gedung yang berada di Buenos Aires itu mulai dibuka sejak tahun 1908.
Posted at 12:28 am by jimpe
Friday, September 14, 2007
Galeano Menulis Miguel Marmol
1905: Ilopango
Miguel yang Berumur Seminggu
Senorita Santos Marmol, yang hamil di luar nikah, menolak mengungkap siapa ayah dari anak yang dikandungnya itu. Ibunya, Dona Tomasa, mengusirnya dari rumah. Dona Tomasa merupakan janda mendiang seorang lelaki miskin berkulit putih dituduh biang dari kemalangan itu.
Ketika si bayi lahir, perawan terusir itu membawa bayinya dalam gendongan, “Ini cucumu, Ibu.” Dona Tomasa sontak berteriak ketakutan begitu melihat si jaban bayi—seperti ketika melihat laba-laba biru, Indian berbibir tebal, layaknya melihat sesuatu yang buruk dan menimbulkan kemarahan dibanding rasa kasihan—menghempas pintu ke wajah anak perempuannya itu.
Di depan pintu, Senorita Santos jatuh dan meringkuk. Di bawah ibunya yang pingsan, si bayi diam seperti mati. Tapi ketika tetangganya menariknya keluar, si bayi langsung meraung. Dan begitulah kejadian yang menjadi kelahiran kedua Miguel Marmol, ketika ia masih berumur 7 hari.
Catatan: Miguel Marmol adalah saksi sebuah revolusi, seperti yang ditulis oleh Roque Dalton, seorang penulis El Salvador, terutama di awal abad ke-20, yang mengembangkan gerakan perlawan buruh dan partai komunis di El Salvador dan Guatemala.
Posted at 03:54 am by jimpe
|