If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, April 17, 2008
90 Menit dalam Buaian Jemari Wyneke dan Leo

SEKITAR 1764-1765, Johann Georg Leopold Mozart yang sadar akan bakat anaknya, Wolfgang Amadeus Mozart, membawa si kecil Mozart berkeliling dan mengenalkannya pada raja-raja Eropa. Anak yang kelak jadi salah seorang komponis terpenting dalam sejarah itu kemudian bertemu dengan Johann Christian Bach, putra J Sebastian Bach, di London. Di ibukota Kerajaan Inggris itulah, di atas pangkuan Bach junior, Mozart memainkan sonata ciptaannya.

Permainan apik serupa kemudian dihadirkan pula di Societeit de Harmonie, Makassar 15 April. Namun duo piano keren kali ini dimainkan oleh dwi pianis Belanda,Wyeneke Jordans dan Leo van Doeselaar.

Pertunjukan itu dimulai dengan gubahan Ludwig van Beethoven, 6 Variationen über ‘Ich denke dein’ WoO 74 (1799). Leo yang berkemeja gelap di kanan, Wyneke dengan gaun abu-abu berhias manik-manik berkilau duduk di tuts bagian kiri. Sinar panggung yang kuning mengarah tepat ke mereka.

Saya, di antara 200-an penonton malam itu, yang duduk di kursi deretan bagian kiri panggung ‘dibelakangi’ pasangan suami istri itu. Posisi piano miring sekitar 50 atau 60 derajat. Paling hanya penonton bagian tengah dan kanan yang leluasa melihat jari mereka menari. Sementara penonton belahan kiri hanya kebagian anggukan kepala kedua pianis ini, sebagai penanda setiap dentingan dan irama gubahan yang mereka mainkan.

Begitu gubahan Beethoven yang dimainkan sekira enam menit rampung, keduanya segera berdiri memberi salam anggukan dan membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih kepada penonton yang memberi tepukan tangan.

Gubahan kedua dimainkan. Kali ini simfoni ciptaan Franz Schubert, Rondo in A, op.107, D.951 (Allegretto quasi Andatino) yang disajikan. Sekali lagi, saya makin ‘frustasi’ karena harapan ingin menyaksikan tarian jari mereka. Paling saya bisa menikmati pantulan dan bayangan tangan mereka di dinding hitam piano. Sesekali tangan kiri (bukan tangan kanan) Leo yang menyembul tiba-tiba ke tuts paling kanan untuk menggapai nada tinggi. Pemandangan ini malah mengesankan tangan yang menjulur itu bukan jari Leo.
Saya kemudian putuskan menyelonjorkan kaki. Biar lebih santai menyimak musik yang mengalun. Lantaran saya sadar bahwa saya tak sedang berburu lentik jari menari. Justru nada yang mendenting itulah kubayangkan sebagai pijatan di kepala saya yang memang memerlukan relaksasi.

Terbayang deretan nada yang terlontar dari jajaran senar dalam perut piano itu sebagai lesatan bintang jatuh. Ibarat lentingan batu ceper yang dilempar ke permukaan air tingtingtingting, atau pijar kembang api di malam tahun baru. Sebiji pijar melambung. Pecah. Hilang. Gelap. Melambung, pecah, hilang, gelap. Begitu lagi, masih lagi, lagi, dan begitu seterusnya. Hmm...

Begitu tangan mereka terangkat tanda gubahan selesai dimainkan, mereka segera berdiri memberi anggukan, menyampaikan salam dengan membungkuk. Lalu Leo dan Wyneke bertukar tempat duduk lagi. Wyneke yang ke kanan. Begitu pula ketika ciptaan Julius Röntgen, Thema met variaties in As, op.17 mereka mainkan. Mereka bersalin tempat; Leo yang berkacamata itu kembali ke kanan. Begitu seterusnya hingga gubahan keempat milik Johannes Brahms 4 Hongaarse Dansen (nr.1 in g Allegro molto, nr.11 in d Poco Andante, nr.13 in D Andantino grazioso, nr.15 in fis Allegro). Empat komposisi, empat irama, dan empat perasaan dimainkan tanpa jeda. Begitu lagu tersebut selesai, tepukan tangan para pirsawan mengiringi mereka menghilang sejenak ke belakang panggung. Mereka rehat sejenak.

KETIKA membaca kata 'Pianoduo' dalam undangan pertunjukannya, segera saya mengira-ngira, seperti apa gerangan konser memakai dua piano. Mungkin asyik. Bisa jadi seru. Makin banyak alat musik yang dimainkan tentu semakin indah lagu yang dibawakan. Ada yang memainkan melodi, seorang lagi menekan tuts menggerakkan semacam rhytm, bassline, atau berbagi nada rendah dan tinggi, setidaknya.

Tapi perkiraan ini buyar. Yang saya dapati justru grand piano selebar kurang lebih 150 sentimeter, 88 tuts, dan satu bangku dibagi dua orang yang duduk berdampingan, dan dua puluh jari tangan memainkan nada klasik yang membuai dan menenangkan. Dan perjalanan musik duet mereka selama 31 tahun dibuktikan dengan penampilan apik mereka yang menyegarkan.

Berehat sekitar 10 menit, Wyneke dan Leo hadir lagi. Kali ini, Wyneke berbicara ke penonton. Selain ucapan terima kasih atas kehadiran para penonton, perempuan yang berambut pendek itu, yang mengingatkan saya pada vokalis Roxette, Marie Fredriksson, kemudian merinci gubahan musik apa lagi yang hendak mereka mainkan segera.

Pertunjukan lanjut lagi. Kali ini mereka mainkan karya Maurice Ravel berjudul Uit “L’Enfant et les Sortilèges”; Valses: Danse des Rainettes et Danse des Libellules et des Sphinx (Valse Amèricaine) dan Five o’clock, fox-trot. Karya ini sendiri diolah untuk piano pada quatre mains dari Lucien Garban. Sebuah karya yang sangat mengaduk perasaa. Sebentar lambat karena nuansa romantis, tak berapa lama kemudian beralih ke nada yang lebih melesat.

Begitu juga pada nomor terakhir yang dipersembahkan Leo dan Wyneke karya Camille Saint-Saëns yang berjudul ‘Carnaval de Animaux’ op.posth. Komposisi ini terdiri dari 14 gubahan, yakni Introduction et Marche Royale du Lion, Poules et Coqs, Hèrmiones (Amimaux vèloces), Tortues, l’Elèphant, Kangourous, Aquarium, Personnages à longues oreilles, Le Coucou au fond des bois, Volière, Pianistes, Fossiles, Le Cygne, dan Final.

Nomor yang terakhir inilah yang membuat saya tertawa kecil. Geli karena nada yang dimainkan Leo dan Wyneke menggelitik mengajak saya ke sebuah dunia yang diisi parade. Ada suara auman singa, ayam yang berpetok, kangguru yang melompat—tepatnya melenting, kura-kura yang berjalan lamban, siuran ikan di kolam, gajah yang mengangkat belalainya, burung yang berkuko—layaknya penanda di sebuah jam, nada beku dalam fosil-fosil, hingga atraksi para pianis dalam sebuah parade.

Seorang bocah yang sekira berumur 10 tahun di samping saya malah tak bisa menahan tawanya, meski lirih. Pengalaman yang menyergapnya kurang lebih 90 menit itu mungkin saja serupa dengan saya. Hmm...

***
TAPI omong-omong, dua orang yang membuai itu siapa ya? Oh, ternyata, berdasarkan lembaran info singkat dari Erasmus Huis, Leo van Doeselaar dan Wyneke Jordans adalah musisi ternama dari Belanda saat ini. Mereka paling sedikit satu kali dalam semusim diundang oleh Concertgebouw dan sering kali tampil bersama orkestera dan ansambel terkemuka di Belanda serta muncul di layar kaca dan radio. Wyneke Jordans dan Leo van Doeselaar adalah lulusan dari Sweelinck Conservatory Amsterdam pada tahun 1981. Pada saat resital kelulusan mereka, mereka tampil sebagai duo piano. Sebagai duo konser yang mapan, sejak tahun 1977 Wyneke dan Leo tampil bersama berbagai orkestra dan dalam resital di Eropa dan Amerika Serikat.

Daftar diskografi duo ini pun sudah sangat panjang dan mencakup karya lengkap Erik Satie untuk piano empat tangan, Dvorák's Opus 59 (Legends) dan karya lengkap Ravel untuk piano empat tangan. Spesialisasi duo ini terutama pada permainan musik historis pada fortepiano. Mereka merekam karya Franz Schubert untuk piano empat tangan untuk Globe Label. Karya ini dimainkan di atas fortepiano Wina yang berasal dari tahun 1826.

Mereka seringkali diminta untuk tampil dalam berbagai festival penting seperti Berliner Tage für Alte Musik, Festival of San Antonio (USA), the Early Music Festival of Moscow dan the Utrecht Early Music Festival. Mereka juga mengeluarkan CD produksi BBC yang mencakup karya Beethoven, Schubert, Mendelssohn, Schumann dan Brahms yang dimainkan pada alat-alat musik historis. CD "Bach after Bach" mereka dengan transkripsi karya orkestral Johan Sebastian Bach oleh Max Reger dan CD terbaru mereka 'Bric-à-Brac' dengan karya Saint-Saëns, Milhaud dan Ravel mendapat perhatian publik internasional.

Menyaksikan pertunjukan mereka, saya teringat lagu Paul McCartney dan Stevie Wonder, Ebony and Ivory. Duet penyanyi kondang itu menyiarkan suara kedamaian dan ketenteraman hidup berdampingan, bagai kayu eboni dan gading dalam piano: Ebony And Ivory, live together in perfect harmony/Side by side on my piano keyboard, oh Lord why dont we?...

Posted at 10:49 pm by jimpe

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry