If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Saturday, March 29, 2008
Kampanye "Tawuran" Penulis Makassar

SEBUAH inisiatif bernama Sastra dari Makassar diusung oleh Panyingkul!, Kafe Baca Biblioholic, Penerbit Nala Cipta Litera, dan Forum Tendakata. Kampanye pertamanya berwujud peluncuran dua buku sastra Makkunrai dan 10 Kisah Perempuan Lainnya karya Lily Yulianti Farid dan Aku Hendak Pindah Rumah kumpulan puisi M Aan Mansyur.
Seperti yang diperkirakan, tak akan ramai diskusi dua buku itu di Universitas Hasanuddin. Acara gagasan para punggawa media kampus Identitas itu awalnya hanya dihadiri oleh para awak media berkala itu sendiri. Jumlah peserta baru bertambah setelah beberapa orang yang kebetulan melintas dan melihat gawean ini ikut gabung. Maka berdialoglah Lily Yulianti, M Aan Mansyur, dan Nurhady Sirimorok bermodal selembar karpet, corong tanpa kabel (yang low-bat), dan penganan kecil.
Dalam obrolan santai yang digelar depan koridor eks Kopma Unhas ini mengemuka kalau perkembangan ini sangat bisa dimaklumi. Betapa pembaca dan penikmat buku di Makassar masih terpukau pada buku penulis Jakarta dan Jawa. [Lebih rinci tentang ini bisa disimak di http://www.panyingkul.com/view.php?id=649] “Ini sudah lebih dari yang diperkirakan,” tanggap Aan.
Gagasan membawanya ke Unhas dikarenakan kampus yang masih dianggap sebagai kampus terbesar di Indonesia Timur itu salah satu titik terawan tawuran mahasiswa. Saling timpuk mahasiswa Unhas berlangsung bertahun sudah. Maka tema yang diangkat dalam diskusi itu adalah “Mari Ngobrol Sastra, Bukan Tawuran!” rasanya tepat. Ditambah lagi obrolan santai itu digelar di antara suara beton yang dibetel, sampah bangunan sekitar gedung eks Kopma itu menumpuk, dan debu dari sampah bangunan yang dibuang turun dari lantai dua beterbangan.
Kalau begitu, sedemikian pentingkah karya sastra itu dibicarakan? Pertanyaan ini dijawab oleh Nurhady bahwa sastralah yang menelusur sisi-sisi terdalam kehidupan manusia. Hal-hal yang lepas dan luput dari liputan media yang seharusnya menjadi tumpuan kita memeroleh informasi dieksplorasi oleh sastra. Media yang ada hanya doyan pada dua kekuatan besar yang menghantui kita sehari-hari: pilkada dan mall.
Sayangnya, bagi salah seorang peserta obrolan, Yusran justru melihat sastra dianggap tidak membumi. Malah melangit di Indonesia lantaran lebih identik dengan hal-hal aneh dan rumit. Bahkan stereotipe sastrawan tak pernah lepas dari penampilan eksentrik—kalau tak mau dibilang kumuh dan penyakitan.
Nurhady mengatakan, ini lebih dikarenakan pola pendidikan sastra dan bahasa di sekolah-sekolah kita yang tak pernah melihat ke relung sudut dan sisi dunia sastra yang lain. Kalau bukan Chairil Anwar, ya paling banter Sutarji Cholzum Bachri. Tak pernah jauh pembahasan sastra Indonesia di bangku sekolah dulu, bahkan sampai sekarang. Lily memberi jawaban yang lantang. Bila dianggap sastra tidak membumi, “Kenapa bukan Anda yang mulai menulis sastra yang Anda harapkan,” cetusnya.

INISIATIF ini berjalan intens. Pagi mengisi obrolan santai live di radio, lanjut diskusi kecil di Unhas sekitar pukul 13.00 Wita, Lily-Aan-Nurhady bergerak lagi ke kantor redaksi Harian Fajar, Graha Pena karena acara serupa segera digelar pukul 14.00 Wita. Pertanyaan yang nyaris sama kembali mengemuka di tempat ini.
Yang beda hanyalah pernyataan Lily tentang perbukuan di Sulawesi Selatan yang (hanya) ramai oleh peluncuran dan diskusi buku para pejabat dan petinggi tingkat birokrat. Kritik serupa dilontarkan Lily ketika acara bincang di waktu pagi.
Di samping soal dunia buku Sulsel, pertanyaan yang muncul di sana terkait kritik pembicara dan peserta tentang dua harian di Makassar. Perlakuan media terhadap isu kebudayaan secara luas tidak terliput dengan baik. Bila pun ada halaman yang disediakan, semisal di Harian Fajar, dikerjakan dengan tergesa. Bahkan jauh dari profesionalitas. Salah ketik dan ungkapan basi bukan perihal baru.
Di kalangan pekerja media, Wakil Pemimpin Redaksi Fajar, Nur Alim Djalil mengatakan, halaman budaya sendiri memang menjadi sebuah urusan pelik di keredaksian. Beberapa kali halaman Seni dan Budaya hendak diganti lembaran yang lebih ‘menjual’. “Kolom budaya, insyaAllah tak akan hilang dari Fajar,” tegas Nur Alim Djalil, di depan hadirin yang berjumlah seratusan orang, menutup sambutannya. Fajar sendiri menjadi sponsor peluncuran inisiatif Sastra dari Makassar.
Sebagaimana biasanya, usai sambutan, acara diskusi segera digelar. Selain Aan-Lily-Nurhady, hadir pula redaktur halaman seni dan budaya Harian Fajar Basri dan Shinta Febriany sebagai moderator.
Dalam diskusi ini, Nurhady memberi penjelasan menukik tentang media. Mungkin lantaran kesal dan gerahnya selama ini mendapat tempat tumpah yang tepat, yakni gedung milik sebuah harian.
Dikatakannya bahwa media di Makassar terlalu banyak membicarakan mall dan tetek-bengek pilkada. Nyaris tak ada lagi ruang untuk berkesenian. Kebanyakan media di Kota Daeng malah mengajak orang-orang berbelanja. Di lain sisi, meski Fajar menyediakan halaman khusus soal ini, dalam pandangan Nurhady, masih digarap ‘asal’. “Jadi wajar terjadi salah ketik, memotong tulisan seenaknya, dan kesalahan-kesalahan elementer lain,” terangnya.
Basri sendiri mengakui, kalau kolom budaya ini masih sepi dari penggiat seni dan budaya di kota ini. Ia bahkan melakukan sosialisasi ke berbagai komunitas untuk mengisi segala rubrik yang tersedia di ruang tersebut. Tapi sedikit penulis yang mengirim karya mereka. Tetap saja ia pontang-panting mengisinya. “Ke mana seluruh seniman dan budayawan yang ada di Makassar?” tanyanya.
Soal ini Lily punya penjelasan sendiri. Dewan Kesenian Makasar sebagai pusat kebudayaan di kota ini terkesan hanya milik orang tertentu saja. Yang berhak disebut seniman atau budayawan adalah mereka yang mendapat restu DKM. Orang yang mengaku seniman akan rebutan siapa yang akan ‘mewakili’ kebudayaan Sulawesi Selatan.
Hal ini pula yang hendak dilawan dalam inisiatif independen yang dinamai Sastra dari Makassar ini. Pola kerja lama akan digerus. Diganti rencana dan modus kerja yang lebih segar dan baru. Dana bukan segala-galanya. Setiap tiba undangan seni dan budaya dari Jakarta untuk Sulawesi Selatan, orang akan rebutan. Pihak yang dekat dengan kekuasaanlah yang berangkat. Sementara esensi dari pertemuan itu sendiri menjadi prioritas kedua bahkan dinomorsekiankan.

JAUH HARI sebelumnya, inisiatif ini diumumkan ke khalayak. Segala lini, baik dunia maya, mulut ke mulut, sampai versi cetak seperti undangan terbuka dan selembaran yang ditempel di banyak tempat, seperti kantong-kantong seni, sekolah, perguruan tinggi Maret-April 2008. Maka sampailah kabar kalau inisiatif ini akan bergerak pula ke Jawa dan sekitarnya, termasuk di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang bagi sebagian kalangan masih menjadi 'pusat' kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Kalangan peragu, sebutlah salah satunya Andika Mappasomba mengatakan, “Tampil di TIM bukanlah suatu pencapaian luar biasa bagi seniman,” katanya, sengit.
Padahal, berdasarkan bincang-bincang di satu dua kesempatan dengan beberapa awak inisiatif ini, TIM diperlakukan selaiknya kantong seni lain yang tersebar di banyak kota dan pelosok Nusantara.[]

Posted at 05:06 pm by jimpe

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry