If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Saturday, March 15, 2008
Cerobong Firman Djamil

BERBEKAL karya yang dijuduli Zero Flue = Zero Chimney, Firman Djamil, berencana hadir dalam festival seni instalasi lingkungan hidup yang bertema “Focus on Global Warming” di Guandu Nature Park, Taiwan, April 2008 mendatang.

CEROBONG yang berbahan baku bambu itu tegak berdiri. Jerami dan biji jagung dihampar di bawah cerobong. Taburan biji jagung ini akan mengundang ribuan burung yang hidup di Guando Nature Park, yang dikenal sebagai situs migrasi 229 jenis burung.
Guandu Nature Park memiliki luas 57 hektar itu berada di bagian utara Taiwan, tepat di pertemuan Sungai Danshui dan Sungai Jilong. Sejak 1 Desember 2001, administrasi Taman Alam Guandu dikelola oleh Wild Bird Society of Taipei, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bekerja selama 30 tahun dalam konservasi dan pendidikan lingkungan hidup.
Demikianlah kira-kira gambaran yang Firman hendak disajikan di sana. Sederhana, barangkali. Namun yang pasti, karya ini adalah salah satu dari delapan karya yang lolos kuras artis (seniman) Amerika Serikat, Jane Ingram Allen. Seniman lingkungan yang bermukim di Taiwan sejak 2004 silam itu menerima 165 karya dari berbagai belahan dunia.
Dalam ancang-ancang Firman, karya itu akan berbentuk cerobong bambu setinggi 6 meter. Tapi seluruh rencananya tadi bergantung pada ketersediaan bahan di Taiwan sana. Dalam korespondensi via email yang dilakukannya dengan sang kurator, Jane, Firman meminta Jane dan penyelenggaranya menyediakan bambu enam batang, dengan panjang sekitar 7 meter dan berdiameter 10 atau 12 sentimeter. Tak lupa biji jagung 10 kilogram.
Sirkuit rancangan fasilitator seni di SMP Negeri 24 Makassar itu adalah sebuah renungan terkait rencana Pemerintah Kota Parepare pembangunan pabrik biofuel di Kelurahan Lapadde, Soreang-Parepare. Investornya PT Jatayu Sarana Investasi.
Dalam rencana yang dilansir harian Tribun Timur edisi 18 Februari 2008, disebut bahwa tidak kurang 40 ribu hektare lahan yang dibutuhkan untuk menanam bahan baku biofuel, antara lain tebu, rumput gajah, dan jagung. Dengan lahan seluas itu, diharap dapat memenuhi kebutuhan bahan baku produksi bahan bakar nabati dari jagung 300 ribu ton per tahun, rumput gajah 500 ribu ton, dan tebu satu juta ton per tahun.
Usai diproses, dalam perkiraan, akan menghasilkan ethanol sekitar 1,62 juta liter setiap tahun, papan panel sekitar 117 ribu meter kubik per tahun, dan sheet fibre sekitar 30 ribu meter kubik per tahun, dan listrik berdaya 61 KWH.
(Sayangnya, media ini tidak memberi penjelasan apa pun tentang istilah yang sudah disebut. Seakan-akan semua istilah itu dipahami oleh masyarakat. Dengan begitu, kesannya tak lebih, segala informasi ini hanya demi sebatas orang saja. Dua kata benda ‘papan panel’ dan ‘sheet fibre’ benar-benar asing bagi saya. Kegunaannya pun tak dicantum di berita itu. Media ini, dan sebagian besar media serupa, tak pernah memberi menyediakan ruang dialog bagi warga dan pemerintah.)
Namun Firman punya pandangan lain. Ia melihat di ketersediaan lahan dan air bersih adalah satu soal rumit bagi kita. Sehingga begitu selesai membaca berita ini, Firman pun merancang karyanya. Disebutnya, ia merancang karya Zero Flue = Zero Chimney sebagai upaya rekonstruksi pengertian pemahaman terkait energi alternatif itu. Apakah itu sudah tepat? “Untuk menanam jagung kita pasti butuh lahan luas dan air bersih yang sangat banyak. Sementara faktanya warga sering kekurangan air bersih,” tegas Firman.

DI INDONESIA sendiri, ethanol dibuat dengan cara fermentasi yang memakai bahan baku tetes tebu. Saat ini, penggunaan ethanol banyak diserap industri kimia, industri farmasi, rumah sakit, industri rokok kretek, industri kosmetika, industri tinta, dan industri mebel.
Ada banyak alasan ethanol digunakan sebagai bahan bakar antara lain memiliki kandungan oksigen lebih tinggi (35 persen) sehingga terbakar lebih sempurna, bernilai oktan tinggi (118), lebih ramah lingkungan karena mengandung emisi gas karbon monooksida lebih rendah 19-25 persen dibandingkan BBM.
Bahan bakar hayati yang ada saat ini dapat diklasifikasi menjadi bioethanol dan biodiesel. Bioetanol yakni campuran 10-30 persen ethanol dengan premium. Untuk Gasohol (gasoline-alkohol) E30, kandungannya terdiri dari campuran 30 persen ethanol dan 70 persen premium/bensin. Sementara untuk biodiesel yang diproduksi dari minyak jarak dan Crude Palm Oil (CPO). Campuran antara 10 persen biodiesel (CPO) dengan 90 persen solar disebut sebagai biodiesel B-10.
Dikatakan, substitusi BBM dengan ethanol akan menurunkan subsidi impor BBM. Dari konsumsi bensin 17 miliar liter per tahun, 20 persen konsumsi (3,4 miliar liter) adalah impor.

BILA tanpa aral, Firman harus sudah ada di Taiwan 5 April mendatang. Namun sejauh ini, seperti yang sebelum-sebelumnya, dalam persiapan berangkatnya, Firman masih menawarkan karya-karyanya ke beberapa teman dekat, mengajukan proposal ke pemerintah dan pihak yang dianggapnya bisa membantunya berangkat ke Taiwan. “Masih cari tambahan buat tiket,” ujarnya lirih, “ya seperti biasa ...”. Kali ini, ia tertawa terbahak-bahak.
Mungkin Firman terbahak lantaran sebelumnya ia menceritakan perihal harapannya bertemu dengan Sekwilda di kantor gubernur Sulawesi Selatan beberapa hari sebelumnya. Tapi rencana bertemu itu urung. Karena seorang petugas di sana mengatakan, “Suratta mo saja yang diminta (Surat Anda saja yang diminta). Jangan maki masuk (Anda tak usah masuk)!”
Penolakan tersebut lalu menyertakan disposisi ke Biro Biro Kesejahteraan, Agama, dan Pemberdayaan Perempuan (KAPP). Firman sendiri merasa dongkol dengan peristiwa ini. Apalagi, begitu keluar dari ruangan, ada rombongan lelaki dan perempuan, yang katanya, kelompok panitia pameran yang biasa digelar pemerintah. Dengan kejadian ini, menurut Firman, jelas berarti dana yang dikelola pemerintah hanya diperuntukkan bagi kepentingan mereka saja.[]

Posted at 12:45 am by jimpe

Name Sanjeewa
March 3, 2010   02:24 AM PST
 
Please call us

0094 75 70 40 366

for some investment in sri lanka

Thanks
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry