If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Saturday, April 18, 2009
Kalau Tidak Ada di Sini, Ada di Tempat Lain

selain di blog ini, ada juga di http://saintjimpe.blogspot.com

Posted at 09:31 pm by jimpe
shoutbox  

Friday, June 20, 2008
Bahaya Laten Malam Pengantin

telah terbit Bahaya Laten Malam Pengantin [kumpulan sajak Aslan Abidin, Ininnawa Juni 2008]. keterangan selanjutnya dapat Anda lihat di S I N I ...

Posted at 12:59 am by jimpe
shoutbox  

Saturday, June 14, 2008
Indonesia Sepanjang 180 Kilometer

Tak perlu menonton televisi untuk tahu perkembangan yang terjadi di Indonesia. Cukup mendengar perbincangan antara penumpang di angkutan. Dari sana kita akan dengar ragam tanggap dan aneka cakap berbagai soal yang ada di Indonesia. Masalah negara kita pun akan terlihat jelas dari atas kendaraan tatkala melintasi daerah dan pelosok.
selanjutnya, baca di sini ...



Posted at 02:32 am by jimpe
shoutbox  

Tuesday, May 27, 2008
Aslan, Pattorani dalam Laut Sastra Indonesia

INILAH lipatan-lipatan sajak Aslan Abidin yang pertama. Sekumpul sajak yang oleh beberapa di antara sidang pembaca, mungkin, amat ’genit’. Pembedaharaan kata rasa genit bisa dinikmati di setumpuk sajak yang ditulisnya mulai 1993 dalam buku ini. Tapi benarkah Aslan genit?
Sepintas rasanya memang demikian. Tapi bagi Penerbit, sajak Aslan Abidin adalah benda penting dalam kehidupan kebudayaan Sulawesi Selatan. Pilihan Aslan untuk memasukkan seperangkat instrumen tubuh ke dalam larik sajaknya adalah pilihan yang tepat—setidaknya untuk kondisi Sulawesi Selatan.
Aslan sendiri dalam beberapa kesempatan mengatakan, perangkat tubuh yang dimasukkannya itu berdasarkan kebiasaan nelayan Pattorani atau pencari telur ikan terbang. Bila sedang di tengah laut, mereka melantunkan syair-syair cabul, sebagai penawar bagi awak Pattorani biar tak dimabukkan ombak laut yang keras; juga pelipur bagi mereka yang dilanda rindu rumah karena berlayar lama.
Tak kalah penting pula bagi kami adalah bila masyarakat laut seperti komunitas Pattorani menggunakan perangkat bahasa itu sebagai syair yang menenangkan, lain pula dengan masyarakat daratan Sulawesi Selatan. Kelamin, tentu dengan bahasa setempat, dipakai dalam kebutuhan memaki, seperti [maaf!] tailaso-mu (laso [Bugis/Makassar] = penis). Penggunaan kata ‘kotor’ itu berbeda dengan masyarakat, semisal Jawa, yang memakai kata, kalimat, dan sumpah-serapah dengan mendayagunakan nama anggota tubuh lain, semisal batok-mu, atau mata-mu.
Perilaku berbahasa masyarakat tempatnya tumbuh itu pun bisa menjadi referensi terkait laku Aslan dalam bersajak, yang memaksimalkan glosari kelamin dan alat genital lainnya menjadi perangkat bahasanya. Maka jangan heran dan tidak kebetulan bila Aslan mengolah dan menyandingkannya dengan kosa kata dan narasi tentang kekuasaan di dalam sajaknya seperti yang terpapar jelas dalam Rajah di Antara Kedua Buah Dada, Homme Statue, Phallusentris, atau Puncak Agustus 2002. Di tempatnya tumbuh, Sulawesi Selatan, Aslan bertindak sebagai warga yang merekam kedongkolannya terhadap praktik-praktik pengaturan yang dilakukan seperangkat aparatus negara yang abai terhadap kritik dan masukan.

KUMPULAN sajak ini awalnya dijuduli Buah Dada Aslan. Judul ini tidak bertahan lama. Aslan menyodorkan titel yang lebih ’menantang’, yakni Kelamin dari Timur. Tajuk ini merupakan pengeliruan Ayam Jantan dari Timur, gelar pahlawan nasional Sultan Hasanuddin. Sayangnya, meski mendapat sambutan hangat, judul itu kami ubah lagi, lantaran beberapa masukan dari teman dekat.
Alasan yang terkuat adalah judul itu dianggap makin menegaskan sastra Indonesia masih memiliki kutub. Kami tidak menganut paham itu. Kami hanya melihat sastra harusnya hadir dan hidup untuk perbaikan-perbaikan kehidupan, setidaknya bagi masyarakat sekitarnya.
Selain itu, kecenderungan para petinggi yang berkiprah di tingkat nasional kerap membawa sematan Dari Timur bila masuk ke kancah yang lebih luas, termasuk Sultan Hasanuddin tadi, sebagai sebuah fenomena lucu bagi kami. Seakan-akan mereka berkiprah karena dorongan semangat dari pendukungnya yang murni hanya dari tempat mereka dibesarkan. Sekali lagi, kami bukan salah satu pengikut paham itu.

KAMI hadirkan sajak-sajak Aslan Abidin dalam buku ini, semoga, menjadi bagian dari laku kritik-diri, kritik terhadap apa yang tengah berlangsung di tengah kami. Harapannya, sifat masyarakat Sulsel yang pojialé (megalomania) tidak sampai menjangkit dalam generasi kami.
Lantaran pula sebab buku ini hadir untuk memberi semarak dunia sastra Indonesia, kami hantar sidang pembaca yang budiman dengan esai tak berjudul dari Ian Campbell, seorang peneliti keindonesiaan berkebangsaan Australia. Tulisan Campbell memang berbahasa Indonesia ’tertatih’. Namun kami membiarkannya demikian agar keaslian buah pikiran Beliau dalam logika bahasa Indonesia tak tergerus penyuntingan.
Dengan ini pula, kami hadirkan Aslan layaknya sebagai Pattorani di lautan luas sastra Indonesia: pelantun syair peredam gelombang hidup yang cepat-deras-keras.[]

(Tulisan ini adalah pengantar penerbitan kumpulan sajak Aslan Abidin "Bahaya Laten Malam Pengantin" [Ininnawa-2008]

Posted at 01:31 am by jimpe
shoutbox  

Sunday, May 04, 2008
Selamat Ulang Tahun, Om Jabo

Iseng-iseng, sambil ngetik-ngetik, kuputar album Kantata Taqwa. Wah, rupanya lagu mereka masih bertenaga. Tapi tiba-tiba saya kok kangen sama Sawung Jabo. Apa kabar dia? Maka kutanyalah 'paman' yang agak maha tahu banyak hal di dunia, Om Google.

Hanya sedikit info tentang Sawung di internet. Terhitung hanya 5 halaman situs yang menyenggol namanya, termasuk www.imdb.com, yang menangkap namanya lantaran bermain di satu film asing, Lucky Miles.

Cari terus, cari cari cari, klik sini klik sana. Ini? Bukan! Yang itu? Ah bukan juga. Terus cari cari cari ... cari cari cari ... Nah! Sampai ketemu biodata singkat si seniman Indonesia yang lumayan lengkap ini di http://oplet.blogspot.com/. Ohhooo, rupanya dia berulang tahun ini hari, tanggal 4 Mei. Ia lahir 57 tahun lalu. Kepingin rasanya langsung kirim kartu ke dia: "Selamat ulang tahun, Om Jabo. Jangan Sudi Berhenti Berkarya. Tetap kerenlah, pokoknya, Om. Ting!"

Nama aslinya Mochamad Djohansyah. Rupanya ia memang banyak menyerap seni dalam hidupnya. Mulai teater di Bengkel Teater di kisaran 1970-an, bersastra, tari, seni rupa, pencak silat, sampai musik--yang memang diperolehnya dari pendidikan formal Akademi Musik Indonesia Yogyakarta.

Pengalamannya yang seabrek dan menggabung itulah melahirkan lagu-lagu yang berlirik puitis sekaligus melodius. Karyanya yang begitu kuat, terutama bagi telinga awam saya, banyak lahir tatkala ia mengibarkan bendera Dalbo bersama Iwan Fals. Lagu Badut yang naratif beriring musik eksprimental, Anak Wayang yang "sangat Sawung", atau Bento yang abadi itu, hasil kolaborasinya dengan Bang Iwan, menjadi lagu ledekan sepanjang masa untuk orang kaya yang selalu semaunya saja, atau pemerintah yang seenak hati atas apapun.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Om Jabo ...

Posted at 03:17 pm by jimpe
shoutbox  

Thursday, April 17, 2008
90 Menit dalam Buaian Jemari Wyneke dan Leo

SEKITAR 1764-1765, Johann Georg Leopold Mozart yang sadar akan bakat anaknya, Wolfgang Amadeus Mozart, membawa si kecil Mozart berkeliling dan mengenalkannya pada raja-raja Eropa. Anak yang kelak jadi salah seorang komponis terpenting dalam sejarah itu kemudian bertemu dengan Johann Christian Bach, putra J Sebastian Bach, di London. Di ibukota Kerajaan Inggris itulah, di atas pangkuan Bach junior, Mozart memainkan sonata ciptaannya.

Permainan apik serupa kemudian dihadirkan pula di Societeit de Harmonie, Makassar 15 April. Namun duo piano keren kali ini dimainkan oleh dwi pianis Belanda,Wyeneke Jordans dan Leo van Doeselaar.

Pertunjukan itu dimulai dengan gubahan Ludwig van Beethoven, 6 Variationen über ‘Ich denke dein’ WoO 74 (1799). Leo yang berkemeja gelap di kanan, Wyneke dengan gaun abu-abu berhias manik-manik berkilau duduk di tuts bagian kiri. Sinar panggung yang kuning mengarah tepat ke mereka.

Saya, di antara 200-an penonton malam itu, yang duduk di kursi deretan bagian kiri panggung ‘dibelakangi’ pasangan suami istri itu. Posisi piano miring sekitar 50 atau 60 derajat. Paling hanya penonton bagian tengah dan kanan yang leluasa melihat jari mereka menari. Sementara penonton belahan kiri hanya kebagian anggukan kepala kedua pianis ini, sebagai penanda setiap dentingan dan irama gubahan yang mereka mainkan.

Begitu gubahan Beethoven yang dimainkan sekira enam menit rampung, keduanya segera berdiri memberi salam anggukan dan membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih kepada penonton yang memberi tepukan tangan.

Gubahan kedua dimainkan. Kali ini simfoni ciptaan Franz Schubert, Rondo in A, op.107, D.951 (Allegretto quasi Andatino) yang disajikan. Sekali lagi, saya makin ‘frustasi’ karena harapan ingin menyaksikan tarian jari mereka. Paling saya bisa menikmati pantulan dan bayangan tangan mereka di dinding hitam piano. Sesekali tangan kiri (bukan tangan kanan) Leo yang menyembul tiba-tiba ke tuts paling kanan untuk menggapai nada tinggi. Pemandangan ini malah mengesankan tangan yang menjulur itu bukan jari Leo.
Saya kemudian putuskan menyelonjorkan kaki. Biar lebih santai menyimak musik yang mengalun. Lantaran saya sadar bahwa saya tak sedang berburu lentik jari menari. Justru nada yang mendenting itulah kubayangkan sebagai pijatan di kepala saya yang memang memerlukan relaksasi.

Terbayang deretan nada yang terlontar dari jajaran senar dalam perut piano itu sebagai lesatan bintang jatuh. Ibarat lentingan batu ceper yang dilempar ke permukaan air tingtingtingting, atau pijar kembang api di malam tahun baru. Sebiji pijar melambung. Pecah. Hilang. Gelap. Melambung, pecah, hilang, gelap. Begitu lagi, masih lagi, lagi, dan begitu seterusnya. Hmm...

Begitu tangan mereka terangkat tanda gubahan selesai dimainkan, mereka segera berdiri memberi anggukan, menyampaikan salam dengan membungkuk. Lalu Leo dan Wyneke bertukar tempat duduk lagi. Wyneke yang ke kanan. Begitu pula ketika ciptaan Julius Röntgen, Thema met variaties in As, op.17 mereka mainkan. Mereka bersalin tempat; Leo yang berkacamata itu kembali ke kanan. Begitu seterusnya hingga gubahan keempat milik Johannes Brahms 4 Hongaarse Dansen (nr.1 in g Allegro molto, nr.11 in d Poco Andante, nr.13 in D Andantino grazioso, nr.15 in fis Allegro). Empat komposisi, empat irama, dan empat perasaan dimainkan tanpa jeda. Begitu lagu tersebut selesai, tepukan tangan para pirsawan mengiringi mereka menghilang sejenak ke belakang panggung. Mereka rehat sejenak.

KETIKA membaca kata 'Pianoduo' dalam undangan pertunjukannya, segera saya mengira-ngira, seperti apa gerangan konser memakai dua piano. Mungkin asyik. Bisa jadi seru. Makin banyak alat musik yang dimainkan tentu semakin indah lagu yang dibawakan. Ada yang memainkan melodi, seorang lagi menekan tuts menggerakkan semacam rhytm, bassline, atau berbagi nada rendah dan tinggi, setidaknya.

Tapi perkiraan ini buyar. Yang saya dapati justru grand piano selebar kurang lebih 150 sentimeter, 88 tuts, dan satu bangku dibagi dua orang yang duduk berdampingan, dan dua puluh jari tangan memainkan nada klasik yang membuai dan menenangkan. Dan perjalanan musik duet mereka selama 31 tahun dibuktikan dengan penampilan apik mereka yang menyegarkan.

Berehat sekitar 10 menit, Wyneke dan Leo hadir lagi. Kali ini, Wyneke berbicara ke penonton. Selain ucapan terima kasih atas kehadiran para penonton, perempuan yang berambut pendek itu, yang mengingatkan saya pada vokalis Roxette, Marie Fredriksson, kemudian merinci gubahan musik apa lagi yang hendak mereka mainkan segera.

Pertunjukan lanjut lagi. Kali ini mereka mainkan karya Maurice Ravel berjudul Uit “L’Enfant et les Sortilèges”; Valses: Danse des Rainettes et Danse des Libellules et des Sphinx (Valse Amèricaine) dan Five o’clock, fox-trot. Karya ini sendiri diolah untuk piano pada quatre mains dari Lucien Garban. Sebuah karya yang sangat mengaduk perasaa. Sebentar lambat karena nuansa romantis, tak berapa lama kemudian beralih ke nada yang lebih melesat.

Begitu juga pada nomor terakhir yang dipersembahkan Leo dan Wyneke karya Camille Saint-Saëns yang berjudul ‘Carnaval de Animaux’ op.posth. Komposisi ini terdiri dari 14 gubahan, yakni Introduction et Marche Royale du Lion, Poules et Coqs, Hèrmiones (Amimaux vèloces), Tortues, l’Elèphant, Kangourous, Aquarium, Personnages à longues oreilles, Le Coucou au fond des bois, Volière, Pianistes, Fossiles, Le Cygne, dan Final.

Nomor yang terakhir inilah yang membuat saya tertawa kecil. Geli karena nada yang dimainkan Leo dan Wyneke menggelitik mengajak saya ke sebuah dunia yang diisi parade. Ada suara auman singa, ayam yang berpetok, kangguru yang melompat—tepatnya melenting, kura-kura yang berjalan lamban, siuran ikan di kolam, gajah yang mengangkat belalainya, burung yang berkuko—layaknya penanda di sebuah jam, nada beku dalam fosil-fosil, hingga atraksi para pianis dalam sebuah parade.

Seorang bocah yang sekira berumur 10 tahun di samping saya malah tak bisa menahan tawanya, meski lirih. Pengalaman yang menyergapnya kurang lebih 90 menit itu mungkin saja serupa dengan saya. Hmm...

***
TAPI omong-omong, dua orang yang membuai itu siapa ya? Oh, ternyata, berdasarkan lembaran info singkat dari Erasmus Huis, Leo van Doeselaar dan Wyneke Jordans adalah musisi ternama dari Belanda saat ini. Mereka paling sedikit satu kali dalam semusim diundang oleh Concertgebouw dan sering kali tampil bersama orkestera dan ansambel terkemuka di Belanda serta muncul di layar kaca dan radio. Wyneke Jordans dan Leo van Doeselaar adalah lulusan dari Sweelinck Conservatory Amsterdam pada tahun 1981. Pada saat resital kelulusan mereka, mereka tampil sebagai duo piano. Sebagai duo konser yang mapan, sejak tahun 1977 Wyneke dan Leo tampil bersama berbagai orkestra dan dalam resital di Eropa dan Amerika Serikat.

Daftar diskografi duo ini pun sudah sangat panjang dan mencakup karya lengkap Erik Satie untuk piano empat tangan, Dvorák's Opus 59 (Legends) dan karya lengkap Ravel untuk piano empat tangan. Spesialisasi duo ini terutama pada permainan musik historis pada fortepiano. Mereka merekam karya Franz Schubert untuk piano empat tangan untuk Globe Label. Karya ini dimainkan di atas fortepiano Wina yang berasal dari tahun 1826.

Mereka seringkali diminta untuk tampil dalam berbagai festival penting seperti Berliner Tage für Alte Musik, Festival of San Antonio (USA), the Early Music Festival of Moscow dan the Utrecht Early Music Festival. Mereka juga mengeluarkan CD produksi BBC yang mencakup karya Beethoven, Schubert, Mendelssohn, Schumann dan Brahms yang dimainkan pada alat-alat musik historis. CD "Bach after Bach" mereka dengan transkripsi karya orkestral Johan Sebastian Bach oleh Max Reger dan CD terbaru mereka 'Bric-à-Brac' dengan karya Saint-Saëns, Milhaud dan Ravel mendapat perhatian publik internasional.

Menyaksikan pertunjukan mereka, saya teringat lagu Paul McCartney dan Stevie Wonder, Ebony and Ivory. Duet penyanyi kondang itu menyiarkan suara kedamaian dan ketenteraman hidup berdampingan, bagai kayu eboni dan gading dalam piano: Ebony And Ivory, live together in perfect harmony/Side by side on my piano keyboard, oh Lord why dont we?...

Posted at 10:49 pm by jimpe
shoutbox  

Saturday, March 29, 2008
Kampanye "Tawuran" Penulis Makassar

SEBUAH inisiatif bernama Sastra dari Makassar diusung oleh Panyingkul!, Kafe Baca Biblioholic, Penerbit Nala Cipta Litera, dan Forum Tendakata. Kampanye pertamanya berwujud peluncuran dua buku sastra Makkunrai dan 10 Kisah Perempuan Lainnya karya Lily Yulianti Farid dan Aku Hendak Pindah Rumah kumpulan puisi M Aan Mansyur.
Seperti yang diperkirakan, tak akan ramai diskusi dua buku itu di Universitas Hasanuddin. Acara gagasan para punggawa media kampus Identitas itu awalnya hanya dihadiri oleh para awak media berkala itu sendiri. Jumlah peserta baru bertambah setelah beberapa orang yang kebetulan melintas dan melihat gawean ini ikut gabung. Maka berdialoglah Lily Yulianti, M Aan Mansyur, dan Nurhady Sirimorok bermodal selembar karpet, corong tanpa kabel (yang low-bat), dan penganan kecil.
Dalam obrolan santai yang digelar depan koridor eks Kopma Unhas ini mengemuka kalau perkembangan ini sangat bisa dimaklumi. Betapa pembaca dan penikmat buku di Makassar masih terpukau pada buku penulis Jakarta dan Jawa. [Lebih rinci tentang ini bisa disimak di http://www.panyingkul.com/view.php?id=649] “Ini sudah lebih dari yang diperkirakan,” tanggap Aan.
Gagasan membawanya ke Unhas dikarenakan kampus yang masih dianggap sebagai kampus terbesar di Indonesia Timur itu salah satu titik terawan tawuran mahasiswa. Saling timpuk mahasiswa Unhas berlangsung bertahun sudah. Maka tema yang diangkat dalam diskusi itu adalah “Mari Ngobrol Sastra, Bukan Tawuran!” rasanya tepat. Ditambah lagi obrolan santai itu digelar di antara suara beton yang dibetel, sampah bangunan sekitar gedung eks Kopma itu menumpuk, dan debu dari sampah bangunan yang dibuang turun dari lantai dua beterbangan.
Kalau begitu, sedemikian pentingkah karya sastra itu dibicarakan? Pertanyaan ini dijawab oleh Nurhady bahwa sastralah yang menelusur sisi-sisi terdalam kehidupan manusia. Hal-hal yang lepas dan luput dari liputan media yang seharusnya menjadi tumpuan kita memeroleh informasi dieksplorasi oleh sastra. Media yang ada hanya doyan pada dua kekuatan besar yang menghantui kita sehari-hari: pilkada dan mall.
Sayangnya, bagi salah seorang peserta obrolan, Yusran justru melihat sastra dianggap tidak membumi. Malah melangit di Indonesia lantaran lebih identik dengan hal-hal aneh dan rumit. Bahkan stereotipe sastrawan tak pernah lepas dari penampilan eksentrik—kalau tak mau dibilang kumuh dan penyakitan.
Nurhady mengatakan, ini lebih dikarenakan pola pendidikan sastra dan bahasa di sekolah-sekolah kita yang tak pernah melihat ke relung sudut dan sisi dunia sastra yang lain. Kalau bukan Chairil Anwar, ya paling banter Sutarji Cholzum Bachri. Tak pernah jauh pembahasan sastra Indonesia di bangku sekolah dulu, bahkan sampai sekarang. Lily memberi jawaban yang lantang. Bila dianggap sastra tidak membumi, “Kenapa bukan Anda yang mulai menulis sastra yang Anda harapkan,” cetusnya.

INISIATIF ini berjalan intens. Pagi mengisi obrolan santai live di radio, lanjut diskusi kecil di Unhas sekitar pukul 13.00 Wita, Lily-Aan-Nurhady bergerak lagi ke kantor redaksi Harian Fajar, Graha Pena karena acara serupa segera digelar pukul 14.00 Wita. Pertanyaan yang nyaris sama kembali mengemuka di tempat ini.
Yang beda hanyalah pernyataan Lily tentang perbukuan di Sulawesi Selatan yang (hanya) ramai oleh peluncuran dan diskusi buku para pejabat dan petinggi tingkat birokrat. Kritik serupa dilontarkan Lily ketika acara bincang di waktu pagi.
Di samping soal dunia buku Sulsel, pertanyaan yang muncul di sana terkait kritik pembicara dan peserta tentang dua harian di Makassar. Perlakuan media terhadap isu kebudayaan secara luas tidak terliput dengan baik. Bila pun ada halaman yang disediakan, semisal di Harian Fajar, dikerjakan dengan tergesa. Bahkan jauh dari profesionalitas. Salah ketik dan ungkapan basi bukan perihal baru.
Di kalangan pekerja media, Wakil Pemimpin Redaksi Fajar, Nur Alim Djalil mengatakan, halaman budaya sendiri memang menjadi sebuah urusan pelik di keredaksian. Beberapa kali halaman Seni dan Budaya hendak diganti lembaran yang lebih ‘menjual’. “Kolom budaya, insyaAllah tak akan hilang dari Fajar,” tegas Nur Alim Djalil, di depan hadirin yang berjumlah seratusan orang, menutup sambutannya. Fajar sendiri menjadi sponsor peluncuran inisiatif Sastra dari Makassar.
Sebagaimana biasanya, usai sambutan, acara diskusi segera digelar. Selain Aan-Lily-Nurhady, hadir pula redaktur halaman seni dan budaya Harian Fajar Basri dan Shinta Febriany sebagai moderator.
Dalam diskusi ini, Nurhady memberi penjelasan menukik tentang media. Mungkin lantaran kesal dan gerahnya selama ini mendapat tempat tumpah yang tepat, yakni gedung milik sebuah harian.
Dikatakannya bahwa media di Makassar terlalu banyak membicarakan mall dan tetek-bengek pilkada. Nyaris tak ada lagi ruang untuk berkesenian. Kebanyakan media di Kota Daeng malah mengajak orang-orang berbelanja. Di lain sisi, meski Fajar menyediakan halaman khusus soal ini, dalam pandangan Nurhady, masih digarap ‘asal’. “Jadi wajar terjadi salah ketik, memotong tulisan seenaknya, dan kesalahan-kesalahan elementer lain,” terangnya.
Basri sendiri mengakui, kalau kolom budaya ini masih sepi dari penggiat seni dan budaya di kota ini. Ia bahkan melakukan sosialisasi ke berbagai komunitas untuk mengisi segala rubrik yang tersedia di ruang tersebut. Tapi sedikit penulis yang mengirim karya mereka. Tetap saja ia pontang-panting mengisinya. “Ke mana seluruh seniman dan budayawan yang ada di Makassar?” tanyanya.
Soal ini Lily punya penjelasan sendiri. Dewan Kesenian Makasar sebagai pusat kebudayaan di kota ini terkesan hanya milik orang tertentu saja. Yang berhak disebut seniman atau budayawan adalah mereka yang mendapat restu DKM. Orang yang mengaku seniman akan rebutan siapa yang akan ‘mewakili’ kebudayaan Sulawesi Selatan.
Hal ini pula yang hendak dilawan dalam inisiatif independen yang dinamai Sastra dari Makassar ini. Pola kerja lama akan digerus. Diganti rencana dan modus kerja yang lebih segar dan baru. Dana bukan segala-galanya. Setiap tiba undangan seni dan budaya dari Jakarta untuk Sulawesi Selatan, orang akan rebutan. Pihak yang dekat dengan kekuasaanlah yang berangkat. Sementara esensi dari pertemuan itu sendiri menjadi prioritas kedua bahkan dinomorsekiankan.

JAUH HARI sebelumnya, inisiatif ini diumumkan ke khalayak. Segala lini, baik dunia maya, mulut ke mulut, sampai versi cetak seperti undangan terbuka dan selembaran yang ditempel di banyak tempat, seperti kantong-kantong seni, sekolah, perguruan tinggi Maret-April 2008. Maka sampailah kabar kalau inisiatif ini akan bergerak pula ke Jawa dan sekitarnya, termasuk di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang bagi sebagian kalangan masih menjadi 'pusat' kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Kalangan peragu, sebutlah salah satunya Andika Mappasomba mengatakan, “Tampil di TIM bukanlah suatu pencapaian luar biasa bagi seniman,” katanya, sengit.
Padahal, berdasarkan bincang-bincang di satu dua kesempatan dengan beberapa awak inisiatif ini, TIM diperlakukan selaiknya kantong seni lain yang tersebar di banyak kota dan pelosok Nusantara.[]

Posted at 05:06 pm by jimpe
shoutbox  

Saturday, March 15, 2008
Cerobong Firman Djamil

BERBEKAL karya yang dijuduli Zero Flue = Zero Chimney, Firman Djamil, berencana hadir dalam festival seni instalasi lingkungan hidup yang bertema “Focus on Global Warming” di Guandu Nature Park, Taiwan, April 2008 mendatang.

CEROBONG yang berbahan baku bambu itu tegak berdiri. Jerami dan biji jagung dihampar di bawah cerobong. Taburan biji jagung ini akan mengundang ribuan burung yang hidup di Guando Nature Park, yang dikenal sebagai situs migrasi 229 jenis burung.
Guandu Nature Park memiliki luas 57 hektar itu berada di bagian utara Taiwan, tepat di pertemuan Sungai Danshui dan Sungai Jilong. Sejak 1 Desember 2001, administrasi Taman Alam Guandu dikelola oleh Wild Bird Society of Taipei, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bekerja selama 30 tahun dalam konservasi dan pendidikan lingkungan hidup.
Demikianlah kira-kira gambaran yang Firman hendak disajikan di sana. Sederhana, barangkali. Namun yang pasti, karya ini adalah salah satu dari delapan karya yang lolos kuras artis (seniman) Amerika Serikat, Jane Ingram Allen. Seniman lingkungan yang bermukim di Taiwan sejak 2004 silam itu menerima 165 karya dari berbagai belahan dunia.
Dalam ancang-ancang Firman, karya itu akan berbentuk cerobong bambu setinggi 6 meter. Tapi seluruh rencananya tadi bergantung pada ketersediaan bahan di Taiwan sana. Dalam korespondensi via email yang dilakukannya dengan sang kurator, Jane, Firman meminta Jane dan penyelenggaranya menyediakan bambu enam batang, dengan panjang sekitar 7 meter dan berdiameter 10 atau 12 sentimeter. Tak lupa biji jagung 10 kilogram.
Sirkuit rancangan fasilitator seni di SMP Negeri 24 Makassar itu adalah sebuah renungan terkait rencana Pemerintah Kota Parepare pembangunan pabrik biofuel di Kelurahan Lapadde, Soreang-Parepare. Investornya PT Jatayu Sarana Investasi.
Dalam rencana yang dilansir harian Tribun Timur edisi 18 Februari 2008, disebut bahwa tidak kurang 40 ribu hektare lahan yang dibutuhkan untuk menanam bahan baku biofuel, antara lain tebu, rumput gajah, dan jagung. Dengan lahan seluas itu, diharap dapat memenuhi kebutuhan bahan baku produksi bahan bakar nabati dari jagung 300 ribu ton per tahun, rumput gajah 500 ribu ton, dan tebu satu juta ton per tahun.
Usai diproses, dalam perkiraan, akan menghasilkan ethanol sekitar 1,62 juta liter setiap tahun, papan panel sekitar 117 ribu meter kubik per tahun, dan sheet fibre sekitar 30 ribu meter kubik per tahun, dan listrik berdaya 61 KWH.
(Sayangnya, media ini tidak memberi penjelasan apa pun tentang istilah yang sudah disebut. Seakan-akan semua istilah itu dipahami oleh masyarakat. Dengan begitu, kesannya tak lebih, segala informasi ini hanya demi sebatas orang saja. Dua kata benda ‘papan panel’ dan ‘sheet fibre’ benar-benar asing bagi saya. Kegunaannya pun tak dicantum di berita itu. Media ini, dan sebagian besar media serupa, tak pernah memberi menyediakan ruang dialog bagi warga dan pemerintah.)
Namun Firman punya pandangan lain. Ia melihat di ketersediaan lahan dan air bersih adalah satu soal rumit bagi kita. Sehingga begitu selesai membaca berita ini, Firman pun merancang karyanya. Disebutnya, ia merancang karya Zero Flue = Zero Chimney sebagai upaya rekonstruksi pengertian pemahaman terkait energi alternatif itu. Apakah itu sudah tepat? “Untuk menanam jagung kita pasti butuh lahan luas dan air bersih yang sangat banyak. Sementara faktanya warga sering kekurangan air bersih,” tegas Firman.

DI INDONESIA sendiri, ethanol dibuat dengan cara fermentasi yang memakai bahan baku tetes tebu. Saat ini, penggunaan ethanol banyak diserap industri kimia, industri farmasi, rumah sakit, industri rokok kretek, industri kosmetika, industri tinta, dan industri mebel.
Ada banyak alasan ethanol digunakan sebagai bahan bakar antara lain memiliki kandungan oksigen lebih tinggi (35 persen) sehingga terbakar lebih sempurna, bernilai oktan tinggi (118), lebih ramah lingkungan karena mengandung emisi gas karbon monooksida lebih rendah 19-25 persen dibandingkan BBM.
Bahan bakar hayati yang ada saat ini dapat diklasifikasi menjadi bioethanol dan biodiesel. Bioetanol yakni campuran 10-30 persen ethanol dengan premium. Untuk Gasohol (gasoline-alkohol) E30, kandungannya terdiri dari campuran 30 persen ethanol dan 70 persen premium/bensin. Sementara untuk biodiesel yang diproduksi dari minyak jarak dan Crude Palm Oil (CPO). Campuran antara 10 persen biodiesel (CPO) dengan 90 persen solar disebut sebagai biodiesel B-10.
Dikatakan, substitusi BBM dengan ethanol akan menurunkan subsidi impor BBM. Dari konsumsi bensin 17 miliar liter per tahun, 20 persen konsumsi (3,4 miliar liter) adalah impor.

BILA tanpa aral, Firman harus sudah ada di Taiwan 5 April mendatang. Namun sejauh ini, seperti yang sebelum-sebelumnya, dalam persiapan berangkatnya, Firman masih menawarkan karya-karyanya ke beberapa teman dekat, mengajukan proposal ke pemerintah dan pihak yang dianggapnya bisa membantunya berangkat ke Taiwan. “Masih cari tambahan buat tiket,” ujarnya lirih, “ya seperti biasa ...”. Kali ini, ia tertawa terbahak-bahak.
Mungkin Firman terbahak lantaran sebelumnya ia menceritakan perihal harapannya bertemu dengan Sekwilda di kantor gubernur Sulawesi Selatan beberapa hari sebelumnya. Tapi rencana bertemu itu urung. Karena seorang petugas di sana mengatakan, “Suratta mo saja yang diminta (Surat Anda saja yang diminta). Jangan maki masuk (Anda tak usah masuk)!”
Penolakan tersebut lalu menyertakan disposisi ke Biro Biro Kesejahteraan, Agama, dan Pemberdayaan Perempuan (KAPP). Firman sendiri merasa dongkol dengan peristiwa ini. Apalagi, begitu keluar dari ruangan, ada rombongan lelaki dan perempuan, yang katanya, kelompok panitia pameran yang biasa digelar pemerintah. Dengan kejadian ini, menurut Firman, jelas berarti dana yang dikelola pemerintah hanya diperuntukkan bagi kepentingan mereka saja.[]

Posted at 12:45 am by jimpe
komentar (1)  

Sunday, February 03, 2008
.....................

Beberapa hari lalu, saya sempat ikut diskusi pendidikan alternatif, sebagai rangkaian acaranya peluncuran buku bukunya Butet. Selain Butet, narasumber lain yang sedianya hadir adalah Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar. Sayangnya, di pagi hari H, sang kadis mengurung niat hadir. Padahal acara itu siap dilaksanakan pada pukul 14.00 wita. Menurut istrinya, berdasarkan obrolan via telepon dengan salah seorang panitia, suaminya mendadak harus ke Jakarta. Entah urusan apa, si panitia tidak tahu.

Sebelumnya, dalam sepekan menjelang acara diskusi buku Butet, panitia mencoba meminjam dua gedung milik pemerintah. Ruang yang pertama dibidik adalah Societeit de Harmonie. Proposal pun dibawa ke Balaikota. Sayangnya, di sana salah seorang panitia, Hendra, hanya bisa sampai ke bagian protokol kantor walikota. Karena besar harapan untuk bertemu dengan Walikota, proposal acara itu coba dihubungkan dengan program pemerintah kota Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM). Tapi salah seorang staf di bagian protokol menyatakan tidak bisa membawanya menghadap ke Walikota. Mesti janjian dulu sebelum ketemu, begitu alasan si staf.

Sehabis dari Balaikota, panitia mencoba mengecek kelayakan gedung yang kerap dipakai untuk acara-acara seni dan budaya itu. Dari pihak pengelola gedung diberi harga sekitar 2,5 juta. Pihak penyelenggara acara diskusi pun membatalkan untuk meminjam gedung itu. "Saya sudah tawar, tapi tidak bisa. Sepertinya harga itu sudah harga buat pihak umum yang mau pinjam gedung kesenian," kata si panitia.

Ia pun beralih ke Gedung Mulo. Peminjaman gedung ini agaknya lebih ribet ketimbang gedung yang diancang-ancang sebelumnya. Tiga hari menjelang acara, Dinas Pariwisata dan Budaya dikiriminya proposal meminjam gedung demi acara sehari itu. Tapi rupanya, niat bertemu langsung dengan kepala dinasnya tidak berhasil. Sama ketika di kantor walikota, lelaki tinggi kuning langsat itu cuma bisa tiba di bagian protokol. Di sana pula ia mendapat informasi harga sewa gedung tersebut. "Saya sampai tadi pagi, ditelepon sampai tiga kali. Saya jawab, saya sudah bayar," katanya.

Usai ngobrol panjang lebar dengan panitia itu, saya pikir, pemerintah memang sepertinya tidak pernah benar-benar hendak membantu segenap kegiatan yang digelar komunitas tertentu. Bagi saya, meski 'ulah' seperti itu hanya dilakukan oleh pegawai tertentunya, tetap saja pemerintah dengan segenap perangkatnya saya anggap tak bisa berbuat tak becus. Seakan-akan program yang akan dilakukan masyarakat tak membutuhkan uluran tangan. Atau diskusi seperti ini hanya sejenis 'ancaman' bagi pemerintah? Atau mereka memang ogah menggubris masalah baru beginian?

Posted at 08:29 pm by jimpe
shoutbox  

Sunday, December 23, 2007
Narasi Orang Biasa di Tengah Gejolak DI/TII

Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan adalah sebuah perlawanan yang menjadi cerita sendiri di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Yang paling sering dibicarakan adalah sosok panglimanya, Kahar Muzakkar. Keberadaan lelaki besar itu yang hingga kini terus diperdebatkan, benarkah masih hidup atau mati tertembak peluru Kopral II Sadeh, anggota Batalyon Kujang 330/Siliwangi, dalam sebuah pengepungan di sekitar Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara?

Di kalangan awam, beberapa masih mengaku bahwa pernah sempat bertemu dengan lelaki tinggi besar itu di sebuah tempat yang, meskipun, tak mau disebut. Bila pun mati, tak ada makam yang bisa membuktikannya. Berdasarkan tayangan (ketika itu masih bernama) TV-7 pada 2006 lalu, teka-teki itu disimpan erat oleh almarhum Jenderal M Yusuf.

Baca selengkapnya di panyingkul!

Posted at 12:15 pm by jimpe
shoutbox  

Next Page